3 Penghargaan FASS Awards 2018 Mendarat Di Bantaeng

385
FASS Awards ajang bergengsi Forum Anak Sulawesi Selatan anugerahi FABT 3 penghargaan untuk tahun 2018.
Muhammad Fadli Tamsir (kanan) menerima Penghargaan pada Malam Penganugerahan FASS Awards Tahun 2018 di Aula Hotel Remaja Indah, Masamba, Lutra (30/03/18).

Lutra (kla.id)

Luwu Utara, Sabtu (31/03/2018). Tak jauh dari Bandar Udara (Bandara) Andi Jemma yang berada di Pusat Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara berlangsung Malam Penganugerahan FASS Awards Tahun 2018. Seluruh kontingen dari 24 Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan hadir menantikan sejak Jum’at petang (30/03), siapa gerangan peraih awards.

Dikemas sedemikian rupa mirip anugerah skala nasional yang lazim disaksikan di media elektronik, kemeriahannya memukau hadirin. Begitu menegangkan, tiap nominasi dibacakan para perwakilan Forum Anak Daerah (FAD) diiringi instrumen musik sekelas Golden Awards atau semacamnya. Dari 15 kategori, Forum Anak Butta Toa (FABT) Kabupaten Bantaeng dianugerahi 3 award untuk kategori Pelaporan Terbaik, Publikasi Terbaik dan Program Kerja Terbaik Klaster I Hak Sipil dan Kebebasan.

Kategori lainnya yakni Pendataan Terbaik, Sekretariat Terbaik, Website Data Terbaik, Program Kerja Terinovatif, Program Kerja Terbaik Klaster II Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif, Program Kerja Terbaik Klaster III Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Sosial, Program Kerja Terbaik Klaster IV Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang dan Kegiatan Budaya, Program Kerja Terbaik Klaster V Perlindungan Khusus, FAD Teraktif, FAD Terfavorit, Ketua FAD Terinspiratif dan FAD Terbaik. Diraih Kabupaten Sinjai, Bone, Pare-pare, Makassar, Sidrap dan Gowa.

Kegiatan ini dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Abdul Mahfud mewakili Bupati Lutra, Kepala Bidang Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak DPPPA SulSel, Nur Anti mewakili Kadis PPPA SulSel. Dalam sambutannya, Nur Anti menyampaikan, “Malam ini malam penganugerahan FASS Awards. Suasananya seperti di TV. lampu dimatikan di belakang dan disetting seperti ini. Akan berlangsung lama karena disetting mirip award kelas nasional lainnya.”

Dirinya bersyukur bahwa acara seperti ini bisa dihandel baik oleh anak. “Kita beri kepercayaan dan kita arahkan, Insya Allah mereka bekerja seperti EO. FFASS ini diupayakan agar campur tangan dewasa minim sekali. Diperkirakan hanya berkisar 30% saja, selebihnya kita tinggal mengarahkan dan membimbing.” tambahnya.

Sementara Sekda Lutra menuturkan hal senada bahwa malam penganugerahaan tersebut jadi kegiatan yang paling ditunggu-tunggu. “FFASS ini salah satu wadah mencari bakat. Anak sekalian yang punya bakat ataupun talenta di beberapa bidang. Meskipun belum diaktualisasikan mungkin di kabupatennya. Namun di festival ini bisa ditunjukkan. Meskipun sekarang dilakukan penutupan. Sesungguhnya kegiatan belum selesai, besok akan kita lihat salah satu destinasi alam di Lutra.” jelasnya. (AMBAE)