CEDC – SWEDIA

319

SHORT COURSE

CHILDREN IN ESPECIALLY DIFFICULTY CIRCUMSTANCES (CEDC)

SWEDIA, APRIL – MEI 2010

Oleh : Rr. Endah Sri Rejeki, SE., MIDEA.

Kepala Bidang Data & Analisa Kebijakan Masalah Sosial Anak, Deputi Bidang Perlindungan Anak

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI

Program short course Children in Especially Difficult Circumstances (CEDC) ini merupakan kerjasama antara Universitas Uppsala Swedia dan Save the Children Swedia. CEDC utamanya diperuntukkan bagi pekerja sosial dan kesehatan di masyarakat, serta pegawai pemerintah yang bekerja dengan, atau yang bertanggung jawab untuk menyusun kebijakan dan program bagi anak-anak yang berada dalam situasi kesulitan khusus. Dalam training ini anak-anak yang berada dalam situasi kesulitan khusus

dikelompokkan dalam enam kelompok, yaitu anak yang hidup dan bekerja di jalanan, anak yang mengalami kekerasan seksual, anak yang tereksploitasi secara seksual, anak yang menjadi ibu, anak yang terinfeksi HIV/AIDS, serta anak yang terkena dampak bencana alam dan konflik sosial.

Penyelenggaraan short course ini dilatarbelakangi oleh studi doktoral yang diambil oleh Wanjiku Kaime Atterhog dari Uppsala University, Stockholm. Penelitian Wanjiku terhadap anak-anak yang hidup dan bekerja di jalan di sebuah wilayah di Viet Nam dan negara-negara Great Mekong Subregion (GMS) menunjukkan bahwa keberhasilan menarik anak-anak dari jalanan sebenarnya juga sangat ditentukan oleh pendekatan yang dilakukan oleh pekerja sosial terhadap anak-anak tersebut.

Selama ini berbagai “label” negatif terlanjur melekat pada anak-anak yang hidup dan bekerja di jalan. Misalnya, mereka sudah menikmati kehidupan bebas, sehingga tidak ingin meninggalkan jalanan dan tidak ingin sekolah lagi. Dalam studinya Wanjiku berhasil melakukan pendekatan kepada anak-anak yang hidup dan bekerja di jalanan tersebut dan membuktikan bahwa sebenarnya mereka ingin kembali ke sekolah dan ingin meninggalkan jalanan. Namun kenyataan yang terjadi adalah pendekatan yang dilakukan oleh banyak pekerja sosial, serta program-program yang ditujukan untuk mengatasi permasalahan anak jalanan tidak berhasil menjawab dengan tepat permasalahan yang terjadi sebenarnya. Sehingga banyak program-program dianggap kurang berhasil, dan jumlah anak jalanan tidak mengalami penurunan secara signifikan, bahkan di beberapa wilayah jumlahnya kian bertambah.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Wanjiku, yang juga merupakan tenaga pengajar di Uppsala University, bekerja sama dengan Save the Children Swedia, dan didukung oleh SIDA menyelenggarakan pelatihan bagi pekerja sosial, tenaga kesehatan dan psikososial yang bekerja langsung untuk anak, serta pegawai pemerintah pembuat kebijakan dan program bagi perlindungan anak, khususnya bagi negara-negara di Asia Tenggara agar mempunyai perspektif tentang pentingnya melakukan pendekatan child-centered dan kemudian mengintegarsikannya ke dalam pekerjaan mereka sehari-hari. Dalam pelaksanaan training, kelompok anak yang menjadi fokus perhatian dikembangkan menjadi kelompok anak yang berada dalam kesulitan khusus seperti telah disebutkan di atas, yaitu anak yang hidup dan bekerja di jalanan, anak yang mengalami kekerasan seksual, anak yang tereksploitasi secara seksual, anak yang menjadi ibu, anak yang terinfeksi HIV/AIDS, serta anak yang terkena dampak bencana alam dan konflik sosial.

Selain mempunyai pendekatan yang child-centered, diharapkan peserta juga dapat memahami dan mampu mengaplikasikan prosedur pembuatan desain, implementasi, dan evaluasi program terkait dengan anak yang berada dalam situasi sulit tersebut.

Sejak dimulainya kursus ini pada tahun 1998, peserta yang terlibat difokuskan pada wilayah GMS, yaitu Viet Nam, Cambodia, Myan Mar, Lao People’s Democratic Republic, Thailand, dan People’s Republic of China. Pada penyelenggaraan training tahun 2010 ini, Wanjiku berinisiatif untuk melebarkan jangkauan peserta training dengan mengundang Indonesia sebagai salah satu peserta. Namun sayangnya, formulir aplikasi sepertinya tidak tersebar luas, sehingga peserta dari Indonesia tidak sebanyak peserta dari negara lainnya. Peserta dari Viet Nam, Cambodia, Laos, dan China berjumlah 5 (lima) orang. Sedangkan dari Myan Mar berjumlah 3 (tiga) orang, Thailand berjumlah 2 (dua) orang, dan Indonesia hanya 1 (satu) orang. Peserta dalam short course terdiri dari unsur pemerintah yang terkait dengan isu perlindungan anak, seperti Kementerian Kesehatan (Laos, Myan Mar, dan Cambodia), Kementerian Kesejahteraan Sosial (Cambodia dan Myan Mar), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Indonesia), pekerja sosial dan LSM, dokter, psikolog, peneliti, dan mahasiswa.

Secara umum, beragamnya latar belakang peserta tersebut merupakan poin tersendiri yang mampu memperkaya diskusi dalam setiap bahasan substansi dalam training. Hal ini disebabkan karena masing-masing peserta berasal dari latar belakang bidang pekerjaan yang berbeda sehingga memberikan pandangan dari sudut yang beragam dalam setiap masalah. Selain bidang pekerjaan, beragamnya negara peserta juga memberikan insight tersendiri tentang bagaimana permasalahan anak tertentu ditempatkan dalam konteks budaya yang berbeda-beda, sehingga memperkaya pengetahuan bagi peserta lainnya.

Catatan menarik lainnya dari pelaksanaan training kali ini adalah dampak meletusnya gunung Eyjafjallokul di Iceland yang terjadi tidak jauh setelah dimulainya pelaksanaan kursus. Beberapa peserta yang masih dalam perjalanan menuju Stockholm sempat tertahan di Bangkok selama lebih dari seminggu karena penerbangan ke Eropa ditutup untuk beberapa saat. Namun demikian, para peserta tersebut masih tetap dapat mengikuti materi dan proses belajar di Stockholm dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi internet teleconference. Dengan teknologi canggih tersebut, para peserta di Bangkok dapat terlibat dalam proses diskusi dan dapat berinteraksi dengan para pengajar dan peserta lainnya. Para peserta yang berada di Bangkok tersebut akhirnya dapat bergabung bersama dengan peserta lainnya pada akhir minggu kedua dan minggu ketiga.

 

 

Materi

Secara umum materi yang diberikan dalam short course sangat penting dan bermanfaat bagi para pekerja di bidang anak, baik bagi pemerintah sebagai pembuat kebijakan di tingkat nasional dan daerah, maupun bagi pelaksana di lapangan, dan para professional seperti dokter dan psikolog. Materi yang diberikan berupa pengetahuan dasar tentang isu-isu anak, serta informasi termasuk perspektif Swedia dalam memandang dan menangani isu anak yang berada dalam situasi sulit.

Selain itu peserta juga diberikan materi tentang bagaimana mengaplikasikan ilmu-ilmu tersebut ke dalam proyek yang dilaksanakan sehari-hari. Dalam beberapa hal, berbagai pengetahuan dan informasi tersebut mampu membangun konsep menyeluruh tentang perlindungan anak bagi peserta.

Materi-materi yang diberikan adalah sebagai berikut:

  1. Perspektif Swedia tentang anak
  2. Partisipasi Anak
  3. Survival and Child Health
  4. Tumbuh dan Kembang: fisik dan psikologis
  5. Anak yang terinfeksi HIV/AIDS
  6. Pengembangan Program training
  7. Media
  8. Kekerasan seksual terhadap anak
  9. Eksploitasi seksual anak dan proyek Mekong
  10. “Anak Jalanan”
  11. Anak korban bencana alam
  12. Logical Framework Approach
  13. Study Visit: Barn Centrum (Children Center)dan Maria Ungdom (Maria Youth Center)

 

Materi-materi tersebut secara lengkap dalam bentuk hard copy masih dalam pengiriman oleh Panitia Sida dari Swedia.

 

Berikut adalah poin-poin catatan penting selama mengikuti short course:

 

Swedia

  1. Secara umum, Swedia adalah salah satu negara Skandinavia yang maju dan telah mempunyai sistem yang terbangun dengan baik. Dengan jumlah total penduduk 9 juta, proporsi anak mencakup 22 persen.
  2. Stockholm, ibu kota Swedia, di mana training ini dilakukan adalah sebuah kota klasik khas Eropa yang cantik dan jauh dari kesan metropolitan yang hiruk pikuk dengan gedung-gedung pencakar langit. Sepanjang pengamatan kami, bangunan-bangunan di sepanjang jalan Stockholm kebanyakan serupa, dan tidak melebihi 5 lantai. Berdasarkan informasi dari salah satu koordinator kami, terdapat peraturan untuk membangun gedung dengan pola serupa, dan tidak melebihi 5 lantai. Nuansa kota yang teratur dan nyaman sangat terasa, membuktikan kota tersebut dibangun dengan perencanaan yang sangat matang.
  3. Seperti umumnya negara maju lainnya, salah satu ciri khas pemukiman di Stockholm adalah tersedianya taman bermain bagi anak yang luas, dan adanya rambu-rambu yang jelas bagi penghuni apartemen. Di apartemen tempat kami menginap, yang merupakan lingkungan pemukiman tempat tinggal (apartemen) di pusat kota, tempat bermain bagi anak yang cukup luas tersedia di depan apartemen kami, dengan rambu-rambu yang jelas.

 

Perspektif Swedia

  1. Dalam hal pembangunan anak, para pengajar menjelaskan bahwa pemerintah Swedia sudah sejak lama memfokuskan pada intervensi kebijakan primer (tahap pencegahan) misalnya semua anak harus sekolah, dan semua anak harus dapat mengakses layanan kesehatan dan sosial, sehingga saat ini hasilnya dapat terlihat dengan jelas, yaitu masyarakat maju dan berpendidikan.
  2. Selain fokus pada tahap kebijakan primer, pemerintah Swedia juga memfokuskan pada intervensi pencegahan sekunder, yaitu intervensi yang segera dilakukan ketika masalah teridentifikasi. Hal ini bertujuan untuk menghindari intervensi pada tahap tersier (tahap rehabilitasi) yang biasanya banyak dialami negara berkembang. Alasan Pemerintah Swedia adalah karena pada tahap tersier selain masalah yang terjadi sudah kompleks, biaya yang dibutuhkan juga jauh lebih besar.
  3. Swedia adalah negara pertama yang secara ekspilisit mempunyai hukum pelarangan corporal punishment pada tahun 1979, yaitu hukum yang melarang orang tua memukul anaknya, termasuk dalam hal mendidik. Hal ini merupakan sesuatu yang cukup sulit dilakukan bagi orang tua pada masa itu, namun mampu menjadi salah satu fondasi yang kuat sehingga menghasilkan sistem perlindungan anak yang maju saat ini di Swedia.
  4. Untuk kasus kekerasan seksual, Swedia mempunyai hukum yang melarang orang dewasa berhubungan seks dengan anak di bawah usia 15 tahun. Masih terkait dengan kasus kekerasan seksual, hal yang masih tabu dibicarakan di Swedia adalah kekerasan seksual yang dilakukan oleh ibu, dan anak yang mengalami cacat mental.
  5. Kekerasan terhadap anak di Swedia kebanyakan terjadi di kalangan imigran, yang mempunyai latar belakang budaya berbeda dan belum memahami betul hukum Swedia tentang banning corporal punishment. Untuk kasus seperti ini, akan dilakukan treatment kepada para orang tua pelaku tindak kekerasan agar menjadi orang tua yang lebih baik. Hukuman dikenakan kepada orang tua terutama didasarkan pada dampak kekerasan pada anak.
  6. Hukum di Swedia juga sangat ekspilist mengatur batasan-batasan definisi kekerasan terhadap anak, yang dibagi menjadi kekerasan fisik, mental, dan seksual.
  7. Selain itu cuti bagi orang tua (parental leave – bagi suami dan istri) sudah berjalan sangat baik. Salah satu pembicara dari donor (Sida), yaitu Daniel Stendahl, baru saja aktif kembali setelah 6 (enam) bulan cuti karena isterinya melahirkan.
  8. Hal menarik lainnya yang diungkapkan oleh beberapa pembicara adalah terjadinya pergeseran peran gender di Swedia saat ini. Menurut para pengajar, banyak laki-laki muda Swedia mulai beralih peran ke area domestik seperti mengasuh anak dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, sedangkan perempuan muda lebih menyukai membangun karir di luar rumah. Hal ini jelas terlihat di jalan-jalan di kota Stockholm, di mana banyak ayah muda berbelanja atau berjalan-jalan sambil mengasuh anak-anaknya.

 

  

 

Partisipasi Anak

  1. Dalam penyampaian materi partisipasi anak, pengajar menggunakan metode yang sangat menarik sebagai pengantar masuk pada isu partisipasi anak. Seluruh peserta diminta sharing pengalaman masa kanak-kanak yang paling diingat tentang apa yang dirasakan saat menyampaikan keinginan kepada orang dewasa (orang tua) namun kurang didengarkan dan ditanggapi seperti yang diinginkan saat itu.
  2. Kesimpulan yang diperoleh dari diskusi tentang mengapa suara anak-anak kurang didengar adalah:
  3. orang dewasa biasanya kurang tertarik dengan pendapat anak
  4. kebanyakan orang tua mengatakan “tidak” tanpa mau memberikan penjelasan lebih lanjut
  5. anak dijadikan obyek pemenuhan harapan dan keinginan orang tua.
  6. Padahal sebenarnya partisipasi adalah proses penting agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
  7. Yang dimaksud dengan “anak harus mampu dalam berpartisipasi” dalam KHA adalah, tidak berarti bahwa anak harus menunjukkan kemampuannya untuk dapat berpartisipasi. Namun, orang dewasa dan negara harus dapat menciptakan atmosfir yang kondusif sehingga anak dapat berpartisipasi.
  8. Penting untuk diperhatikan bahwa setiap anak mempunyai hak anak untuk didengar pendapatnya, tidak saja bagi anak yang memang ingin didengar, tapi juga sangat penting untuk mendengar suara anak yang tidak ingin di dengar (misalnya anak perempuan yang biasanya mempunyai kesempatan lebih sedikit dibanding anak laki-laki, atau anak yang pemalu).

 

 

 

Konsep Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak

  1. Materi yang disampaikan oleh Profesor Mehari Gebre-Medhin dari Uppsala University tentang kesehatan, dan tumbuh kembang anak sangat bermanfaat. Profesor Mehari banyak memberikan konsep-konsep dasar seputar kesehatan, survival, tumbuh dan kembang anak, yang mampu memberikan insights kepada peserta tentang penempatan konsep-konsep tersebut secara kontekstual.
  2. Beberapa penekanan yang diberikan oleh Profesor Mehari antara lain adalah bahwa masalah kesehatan anak sebenarnya tidak hanya sekedar masalah kesehatan saja, tetapi juga sangat terkait dengan masalah masyarakat dan lingkungannya. Masalah kesehatan anak juga tidak hanya terbatas pada masalah kemampuan anak untuk bertahan hidup, tetapi juga menyangkut masalah kesehatan fisik, emosional, kognitif, dan perkembangan yang saling terkait.
  3. Penekanan lain yang digarisbawahi Profesor Mehari adalah pentingnya memfokuskan program pada perempuan dalam masalah kesehatan anak, terutama jika perempuan (ibu) masih berperan sangat besar pada perkembangan dan pendidikan anak di sebuah kultur masyarakat. Hal ini sangat terkait dengan karakteristik anak, di mana keberlangsungan hidupnya masih sangat tergantung dari orang dewasa yang mengasuhnya. Oleh karena itu, Profesor Mehari menekankan agar melakukan investasi pada perempuan hamil dan anak remaja perempuan.
  4. Dalam beberapa kesempatan, Profesor Mehari menggarisbawahi dan menyaranakan agar, terutama negara-negara berkembang, melakukan investasi pada anak remaja. Profesor Mehari menggambarkan siklus bayi yang segera berubah menjadi anak remaja, dan kemudian dengan sangat cepat berganti menjadi orang tua (hal ini juga sangat terkait dengan usia pernikahan yang relatif muda di beberapa negara berkembang):
  5. baby

 

 

women/pregnancy                                 adolescents

  1. Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi negara untuk mempersiapkan remaja dengan sungguh-sungguh untuk menjadi orang tua yang baik.
  2. Isu relasi gender yang tidak seimbang dalam masyarakat pada umumnya juga diangkat oleh Profesir Mehari karena turut berkontribusi pada kondisi kesehatan anak secara umum. Oleh karena itu, kembali ditekankan bahwa sangat penting bagi negara untuk mempunyai program khusus bagi anak remaja, agar mereka mempunyai pandangan tentang konsep relasi gender yang benar sejak usia remaja. Dengan terciptanya hubungan yang saling menghormati antara anak remaja laki-laki dan remaja perempuan, diharapkan akan berdampak pada berkurangnya kasus-kasus kekerasan ketika mereka memulai membangun rumah tangga kelak, khususnya kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Misalnya ketika perempuan tidak dapat mengakses layanan kesehatan dengan baik, atau perempuan yang mengalami kekerasan di dalam rumah tangganya, tentu akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anaknya.

 

HIV/AIDS pada Kaum Muda

  1. Dalam kasus pencegahan HIV/AIDS, kendala yang paling utama terjadi di masyarakat, khususnya kaum muda di negara berkembang adalah seksualitas kaum remaja dan stigmatisasi sex pra-nikah yang menyebabkan terhambatnya akses informasi bagi mereka. Isu lain yang teridentifikasi terhadap slogan pencegahan HIV/AIDS: ABC (abstinence, be faithful, condom use), adalah dibutuhkannya hubungan yang setara dalam relasi gender.
  2. Tantangan lainnya dalam permasalahan HIV/AIDS adalah kurang terintegrasinya program-program yang ada, padahal donor yang tersedia untuk program HIV/AIDS sebenarnya cukup banyak.

 

Space for Children in Urban Development

  1. Masalah utama dalam mengembangkan ruang yang layak bagi anak dalam pembangunan kota adalah masih sedikitnya pengertian pengambil keputusan tentang bagaimana anak-anak mengalami kemiskinan, dan apa dampak lingkungan yang miskin tersebut terhadap anak. “Kemiskinan” di sini tidak semata-mata diartikan sebagai miskin materi, namun lebih kepada konsep miskin dalam arti luas, utamanya adalah miskin lingkungan yang sehat bagi anak. Oleh karena itu kemiskinan anak tidak dapat diselesaikan dengan meningkatnya pendapatan keluarga semata, namun harus dengan meningkatkan kualitas lingkungan lokal bagi anak.
  2. Terutama dalam merancang tempat bermain bagi anak, sangat penting bagi pengambil keputusan untuk mendengarkan suara kelompok anak yang sering terpinggirkan, yaitu kelompok anak perempuan dan remaja perempuan. Kebutuhan bermain antara anak laki-laki dan perempuan berbeda, namun sayangnya suara kelompok anak perempuan dan remaja perempuan sering tidak terdengar.

 

STUDY VISIT: BARN CENTRUM dan MARIA UNGDOM

  1. Barn Centrum (Children Center) merupakan konsep pelayanan terintegrasi bagi anak korban kekerasan, yang meliputi layanan kesehatan, sosial dan legal. Yang menarik dari tempat ini adalah ruangan yang didesain dengan sangat ramah anak, yaitu selain polisi ataupun dokter tidak menggunakan seragam, ruangan yang tersedia juga sangat nyaman bagi anak, dengan banyak mainan, dan tembok-tembok penuh aneka lukisan binatang. Hal ini tentu juga didukung oleh alokasi biaya yang sangat memadai. Selain itu, kamera yang dipasang di ruang untuk anak saat diwawancara tidak terlihat, sehingga anak tetap merasa nyaman. Selama proses wawancara, petugas lain mengamati dari televisi di ruangan lain. Proses wawancara ini dianggap sangat penting bagi polisi, karena dapat digunakan dalam proses sidang di pengadilan sebagai bukti. Di Swedia, anak tidak boleh masuk ruang pengadilan, termasuk sebagai saksi.
  2. Maria Ungdom (Youth Center) adalah pusat rehabilitasi bagi remaja pengguna obat-obatan terlarang di Swedia. Di dalam pusat ini, polisi bekerja sama sangat baik dengan pekerja sosial, terutama saat bekerja di lapangan mencari anak-anak remaja pengguna narkoba, seperti dalam pesta-pesta maupun di jalan. Namun demikian, mereka mengakui permasalahan remaja di Stockholm bisa dikategorikan tidak mengkhawatirkan dan mencakup proporsi yang sangat kecil, karena biasanya permasalahan tersebut dapat segera teratasi sebelum bertambah parah.
  3. Dalam studi visit ke Barn Centrum (Children Center) dan Maria Ungdom (Maria Youth Center) tersebut sangat terlihat dengan jelas perbedaan cakupan permasalahan, dan jenis pelayanan yang tersedia antara Swedia, dan secara umum yang terjadi di negara-negara berkembang peserta. Seperti yang diakui oleh mereka, permasalahan yang ditangani baik kuantitas maupun kualitasnya dapat dikatakan sangat tidak mengkhawatirkan dibandingkan dengan layanan yang tersedia bagi anak dan remaja yang bermasalah. Hal ini dikarenakan investasi yang dilakukan pemerintahan Swedia yang fokus pada intervensi kebijakan di tingkat primer dan sekunder, sehingga permasalahan yang ditangani belum terlanjur menjadi kompleks dan besar. Namun demikian, studi visit ke pusat-pusat anak dan remaja tersebut tetap memberikan inspirasi yang sangat bermanfaat bagi para peserta.

 

LAIN-LAIN

  1. Untuk lebih mendalami pengertian tentang materi-materi yang diajarkan utamanya tentang anak jalanan, Wanjiku menghadirkan 2 mantan anak jalanan dan pengurus rumah singgah bagi anak jalanan di Kenya. Wanjiku berhasil menarik kedua anak tersebut dari jalanan pada saat itu, yang kini telah menjadi pengusaha kue dan mahasiswa di Kenya. Beberapa hal yang digarisbawahi dalam membantu anak jalanan adalah dipahaminya dengan baik perspektif anak jalanan, namun tidak membawa instrumen sendiri. Melainkan, kita harus benar-benar mendalami permasalahan yang dialami anak-anak tersebut dan membangun program bersama dengan mereka. Selain itu, penting menolong anak jalanan untuk mempunyai mimpi, karena ketika mereka hidup di jalanan, mimpi mereka telah mati.
  2. Hasil utama dari program short course adalah, selain materi-materi yang sangat bermanfaat, juga terbangunnya jaringan kerja secara formal di bawah koordinasi Sida. Jaringan kerja tersebut diharapkan dapat berfungsi sebagai alat komunikasi, informasi, diskusi, dan khususnya sebagai pendukung dalam permasalahan anak-anak dalam kesulitan khusus. Salah satu usulannya adalah agar jaringan kerja tersebut mampu bekerja sama dalam menanggulangi permasalahan trafficking. Sebagai pengurus pertama, sebagai ketua adalah wakil peserta dari Viet Nam, dan sekretaris adalah wakil peserta dari China. Kepengurusan berlaku setahun, dan akan dilakukan bergiliran setiap negara.

 

PILOT PROJECT

Sebagai bagian dari program short course, setiap peserta disyaratkan untuk membuat pilot project. Namun demikian bagi peserta yang berasal dari negara yang sama, diharapkan pilot project dapat dikerjakan dalam bentuk tim negara. Pilot project yang dibuat peserta tidak mendapatkan dukungan dana dari Sida, namun Sida menyiapkan bantuan teknis dalam mengembangkan dan mengevaluasi pilot project.

Saat mendaftar untuk mengikuti kursus, sebenarnya setiap peserta disyaratkan untuk menulis semacam proposal untuk pilot project, namun seiring dengan bertambahnya ilmu-ilmu baru yang diajarkan dalam training, biasanya tema pilot project berubah.

Setelah melalui pelajaran tentang LFA (logframe approach) dan materi-materi yang diberikan, kami memutuskan untuk membuat pilot project tentang partisipasi anak dalam pengembangan KLA. Ide ini sebenarnya terinspirasi dari materi tentang partisipasi anak dalam pembangunan, dan pentingnya peran media dalam mempromosikan hak anak. Selain itu, kami juga terinspirasi dari bahan KIE yang pernah dibawa oleh Karen Malone, Direktur UNESCO untuk proyek Child Friendly City Asia Pacific yang berisi aspirasi anak-anak di sebuah wilayah di Australia tentang tempat yang nyaman bagi mereka.

Pilot project kami bermaksud mengembangkan materi KIE tentang pendapat anak-anak, dapat berupa gambar, tulisan, dan puisi tentang tempat yang mereka butuhkan dan yang nyaman bagi mereka. Selain gambar, tulisan dan puisi, anak-anak juga akan kami minta untuk mengambil foto di tempat-tempat yang mereka suka dan mereka tidak sukai, dan memberikan alasan tentang mengapa mereka menyukai atau tidak menyukai tempat-tempat tersebut.

Kegiatan tersebut akan dilakukan di salah satu kelurahan wilayah KLA, yaitu di Jakarta Pusat. Hal ini juga mempertimbangkan biaya yang tidak perlu banyak dikeluarkan apabila kegiatan tersebut dilakukan di Jakarta. Selain menjadi bahan KIE dan contoh bagi pemerintah daerah, diharapkan bahan tersebut dapat dijadikan pula sebagai masukan bagi pemerintahan kota Jakarta Pusat tentang tempat yang dibutuhkan dan diimpikan anak-anak di wilayah tersebut.

Kami telah melakukan komunikasi dan konsultasi intensif dengan Bapak Asisten Deputi Masalah Sosial Anak ketika itu, dan beberapa kabid terkait tentang rencana pelaksanaan pilot project tersebut. Kami mendapat dukungan baik dari Bapak Asisten Deputi dan para kabid.

Menurut informasi yang diperoleh, pilot project kami akan dimonitor oleh Gabriella Ollofson, Global Coordinator Child Protection Save the Children, Swedia pada sekitar bulan Novermber 2010, yang sejak awal sudah tertarik ketika kami mengungkapkan tentang KLA di Indonesia. Setelah dimonitor langsung oleh para penyelenggara training, hasil pelaksanaan pilot project peserta akan diseminarkan dalam work shop tahun depan, yang akan diselenggarakan di China.

Pilot project kami secara lengkap dalam microsoft word dan dalam bentuk power point yang kami presentasikan di hadapan para pengajar, seluruh peserta, dan tamu adalah seperti terlampir. Kami bersyukur, pilot project yang kami presentasikan cukup mendapat sambutan yang baik dari seluruh audience, bahkan beberapa peserta menyatakan terkesan, walaupun dengan sedikit kritikan.

 

REFLEKSI dan REKOMENDASI

  1. Salah satu kegiatan dalam short course tersebut adalah market place. Market place merupakan acara di mana masing-masing negara berkesempatan “memamerkan” organisasi tempat peserta bekerja, sekaligus negara mereka. Masing-masing peserta yang mewakili negara menjelaskan tentang organisasi, apa yang dilakukan dan telah dihasilkan terkait dengan isu anak kepada para pengajar dan seluruh peserta, sambil memamerkan produk-produk (KIE dan lain-lain) yang dihasilkan organisasinya. Sayangnya, produk KIE dari KPP dan PA dalam bahasa Inggris masih sangat minim, sehingga materi KIE yang kami bawa tidak banyak. Walaupun kami menjelaskan panjang lebar tentang apa yang sudah dilakukan KPP dan PA, namun karena peserta Indonesia hanya kami, pameran dari Indonesia terlihat cukup sepi produk.

Berdasarkan pengalaman tersebut, kami mengharapkan bahan-bahan KIE utamanya tentang program-program unggulan pembangunan anak dapat dicetak pula dalam bahasa Inggris, sehingga masyarakat internasional dapat memperoleh informasi memadai tentang apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk program pembangunan anak.

  1. Kami merasakan manfaat yang sangat besar dengan mengikuti program short course CEDC ini. Selain pengetahuan-pengetahuan baru yang sangat bermanfaat, short course ini juga sangat baik dalam membangun jaringan kerja dengan para pekerja anak di negara-negara Asia Tenggara, dan Swedia. Oleh karena itu, kami berharap saat kursus ini diselenggarakan kembali 2 tahun mendatang, akan lebih banyak staf dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mendaftar kursus ini, sehingga jaringan yang terbangun antara Indonesia secara umum dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak secara khusus dengan negara-negara lain, khususnya dengan para pekerja anak baik pemerintah, LSM dan tenaga kesehatan akan semakin kuat.
  2. Seperti yang telah diungkapkan di atas, pilot project kami rencananya akan di monitor secara langsung oleh Koordinator Global Perlindungan Anak Save the Children Swedia pada sekitar bulan November 2010. Oleh karena itu, jika rencana itu tetap berjalan, kami berharap personil di keasdepan KLA kelak dapat memanfaatkan kehadiran Gabriella Oloffson untuk mulai membangun kerjasama dengan Save the Children Swedia di bidang KLA, karena Gabriella terlihat sangat concern dengan isu urban planning yang ramah bagi anak.

Demikian laporan kami sampaikan. Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

 

Jakarta, 2 Juni 2010