Dorong Kreatifitas Pelajar, Disbudpar Maros Laksanakan Festival Film Pendek

63

Maros (kla.id)

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros Banyak memperkenalkan spot dan kawasan wisata di Kabupaten Maros melalui enam film pendek karya pelajar Maros yang menjadi pemenang Festival Film Pendek Maros (FFPM) 2018.

Ajang kompetisi film pendek untuk pelajar ini digelar oleh Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Maros bekerjasama dengan Maros Creative Capture (Macaca) Sinema.

Enam film nominasi FFPM ini ditayangkan dan dinonton bersama di Gedung Baruga B Kantor Bupati Maros, Kamis kemarin.

Kepala Disbudpar Maros, Kamaluddin Nur mengatakan, bahwa film merupakan ajang kreasi insan seni yang harus dikembangkan untuk mendukung kebudayaan dan kepariwisataan Maros.

Melalui festival film ini, pihaknya berharap pengarapan film lokal oleh generasi muda, yang tren disebut generasi milenial tidak hanya sebatas cerita cinta, tapi juga cerita berlatar budaya dan pariwisata.

“Karena kekayaan alam Maros menarik bagi wisatawan yang datang, sehingga melalui film masyarakat secara meluas dapat mengenal Maros yang kita cintai ini. Harapan saya juga, film-film pendek ini bisa berbicara di tingkat provinsi bahkan nasional,” ujarnya, Jumat (21/12/2018).

Sementara Juri dari Macaca Sinema, Ilham Halimsyah mengemukakan, FFPM merupakan ajang kompetisi karya film lokal, yang menyasar pelajar dan mahasiswa. Pada pembuatan film pendek, peserta diwajibkan syuting di tempat yang berlatar wisata, kegiatan ekonomi kreatif atau kebudayaan di Maros.

“Keenam film tersebut merupakan karya finalis dari 11 karya film yang masuk ke panitia, setelah dilakukan diseleksi sesuai syarat lomba, oleh para juri menetapkan enam film sebagai nominasi,” ujar line producer sejumlah film lokal Maros ini.

Keenam film itu, yakni Manca, Untuk Sebuah Buku, Where Is My Cow, SSYSM, Surga Kecil Butta Salewangang dan satu film tanpa judul. Film-film itu mengambil latar Rammang Rammang, Pantai Kuri dan PTB Maros.

Setelah pemutaran film, juri memberi review terhadap film-film tersebut, sesuai kriteria penilaian yang meliputi ide cerita, tampilan cinematography, tata suara dan unsur pendukung lainnya.

Kemudian melakukan penilaian dan menetapkan Where Is My Cow sebagai film terbaik pertama, Manca sebagai film terbaik kedua dan Untuk Sebuah Buku, SSYSM, Surga Kecil Butta Salewangang, film tanpa judul sebagai film terbaik ketiga.

Para pemenang FFPM 2108 ini mendapatkan tropi dan uang tunai yang telah disiapkan oleh Bidekraf Disbudpar Maros.