Karakter Anak Terbentuk dari Keteladanan dalam Keluarga

267

Bulukumba,(kla.id)
Seorang Ibu atau Ayah wajib memberikan keteladanan yang baik kepada anak-anaknya. Orang tua jangan memerintah anak untuk shalat tapi orang tua sendiri malah tidak shalat.
Demikian kata Siti Isniyah Hatibu, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bulukumba saat membuka kegiatan Pembinaan Sikap dan Perilaku melalui Peran Keluarga yang diselenggarakan Tim Penggerak PKK Kabupaten Bulukumba kerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bulukumba di Gedung PKK, Selasa 30 Oktober 2019.
Di depan para Pengurus PKK dari sepuluh kecamatan se-Kabupaten Bulukumba, Istri Tomy Satria Yulianto, Wakil Bupati Bulukumba itu menguraikan beberapa fungsi keluarga dalam pembentukan karakter anak sebagai bagian dari anggota keluarga.
“Jadi keluarga adalah tempat awal dimana anak-anak kita mendapatkan pelajaran. Bentuk perlakuan anak dari orang tuanya sedikit tidaknya akan memberi pengaruh kepada cara anak tersebut berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak yang terdidik dengan cara kekerasan cenderung berlaku kasar,” papar Siti Isniyah.
Lebih lanjut Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bulukumba itu memberikan trik agar keluarga-keluarga dapat mendidik dan membentuk karakter anak melalui komunikasi yang baik antara anak dengan orang tua. Termasuk komunikasi yang baik antara suami dan istri dalam rangka memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan anak dalam keluarga.
Pada kesempatan itu juga, Siti Isniyah menyampaikan arti penting pendidikan seks dan kesehatan reproduksi bagi anak. Pendekatannya, kata Siti Isniyah, adalah memberi pemahaman kepada anak-anak kita untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain dalam dirinya. Dengan demikian anak-anak bisa terhindar dari bentuk pergaulan yang menjerumuskan anak kedalam pergaulan bebas.


Sementara itu, Hj. Umrah Aswani Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bulukumba yang tampil memberikan materi tentang Ketahanan Keluarga memaparkan beberapa kasus yang muncul dan ditangani lembaga yang dipimpinnya, berawal dari masalah keluarga.
Dia mencontohkan kasus penelantaran anak, biasanya dipicu oleh ketidak harmonisan hubungan antara ayah dan ibu dari anak korban penelantaran.
Ketidak harmonisan itu pula berawal dari ketidakmatangan mental pasangan suami istri dalam menjalani kehidupan berkeluarga.
“Kebanyakan dari mereka adalah pasangan yang menikah saat usianya masih belia. Usia mereka saat menikah masih dalam kategori anak. Sehingga mereka belum bisa menjalani kehidupan berkeluarga dengan baik,” kata Umrah Aswani.
Disampaikan pula, bahwa orang yang dinikahkan sebaiknya adalah orang yang betul-betul siap untuk berkeluarga dalam arti perempuan harus siap menjadi ibu yang baik dan laki-laki harus siap menjadi bapak yang baik.
“Perempuan dapat menjadi istri, demikian pula laki-laki dapat menjadi suami. Tapi, seorang perempuan belum tentu mampu menjadi ibu yang baik, dan seorang laki-laki belum tentu mampu menjadi bapak yang baik,” kata Umrah Aswani. (Muhajir Ganie)