Kegiatan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di Kabupaten Sumba Barat Daya Provinsi Nusa Tenggara Timur

1719

Foto Bersama Kader/Aktivis PATBM Kabupaten Sumba Barat Daya dengan Asisten Deputi Bidang Perlindungan Anak Dalam Situasi Darurat dan Pornografi yang dalam hal ini adalah Ibu Valentina Ginting

Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) merupakan salah satu upaya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam memberikan perlindungan terhadap anak dengan berbasis masyarakat. Pada Tahun 2016, Kementerian  Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak membentuk 2 Desa Percontohan  PATBM di Kabupaten Sumba Barat Daya yaitu Desa Weerame, Kecamatan Wewewa Tengah  dan Desa Watukawula, Kecamatan Kota Tambolaka,  yang diawali dengan pelatihan kader/aktivis desa sebanyak 20 (dua puluh) orang di Hotel Swiss Bellin Kristal pada Tanggal 7 sampai dengan 9 November 2016.
Sasaran kegiatan PATBM yang telah di dilakukan di 2 (dua) Desa Percontohan adalah anak, orang tua, keluarga dan masyarakat yang ada di wilayah desa tersebut. Dalam melaksanakan kegiatan PATBM di tingkat desa, aktivis PATBM bekerjasama dan berjejaring dengan semua komponen yang ada di masyarakat seperti PKK, Posyandu, Perkumpulan Remaja, Kaum Bapak, Kaum Ibu, Lembaga Pendidikan, Keagamaan dan LSM.
Kegiatan yang dilakukan berupa kegiatan promotif dan upaya pencegahan untuk menghindari terjadinya kekerasan, upaya ini bertujuan untuk membangun dan menguatkan norma anti kekerasan, meningkatkan kemampuan orang tua untuk mengasuh anak serta meningkatkan kemampuan anak untuk bisa melindungi dirinya dari kekerasan.
Pada Tanggal 9 Desember 2016, Aktivis PATBM membentuk Struktur Organisasi PATBM di Desa Weerame dengan Struktur Organisasi sebagai berikut : Dewan Pembina adalah David Dappa selaku Kepala Desa Weerame, Ketua atas nama Yulius Zama Awa, Wakil Ketua atas nama Agustinus Umbu Rey, Yusuf Manu Milla, SH sebagai sekretaris, Agustina Woya Pati sebagai bendahara, dan anggota – anggotanya sebagai berikut Pdt, Martha Ari Molla, SH, Manase Lende Louro, SH, Ester Lewo Ina, Agustina Gole dan Oscarine Kondo, S. Si – Teol, M. Si.
Adapun kegiatan – kegiatan yang telah dilaksanakan di Desa Weerame periode November 2016 sampai dengan Februari 2017 adalah sebagai berikut pada Tanggal 12 Desember 2016, melakukan sosialisasi di Tingkat Dusun yaitu Dusun Padua Tana, Suma Tamo dan Kalli Ngara, sosialisasi ini dihadiri oleh aparat dusun, RT dan RW dengan maksud memberikan  informasi tentang Desa Weerame yang terpilih menjadi Desa Percontohan PATBM, dan diharapkan aparat desa dapat menjadi perpanjangan informasi dari para aktivis bagi warga di setiap dusun. Sosialisasi juga dilakukan di lingkup gereja, sekolah PAUD dan juga Posyandu.
Periode Bulan Maret sampai dengan Mei 2017, selain Sosialisasi PATBM yang terus menerus dilakukan di lingkup gereja, PAUD, Posyandu dan di tingkat RT/RW, Aktivis juga melakukan sosialisasi kepada Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat dan semua elemen masyarakat yang ada di desa. Pada bulan Mei 2017, aktivis memanfaatkan pertemuan – pertemuan yang ada di desa yaitu melakukan Sosialisasi PATBM pada Pertemuan Kelompok Penerima Bantuan PKH pada Tanggal 12 Mei 2017.
Periode Bulan Juni sampai dengan Agustus 2017, Aktivis melakukan pertemuan dengan seluruh aparat desa untuk membahas tentang keberlanjutan PATBM termasuk dukungan atau topangan dana demi kelancaran pelaksanaan PATBM di Desa Weerame melalui Dana Desa. Hasil kesepakatan adalah Pemerintah Desa Weerame akan mengalokasikan Dana Desa untuk kegiatan PATBM pada Tahun Anggaran 2018. Pada Tanggal 5 Agustus 2017, aktivis melakukan sosialisasi PATBM kepada anak – anak PAUD bersama orang tua di Gedung Gereja GKS Weerame, Aktivis juga melakukan sosialisasi di Posyandu Suma Tamo pada Tanggal 10 Agustus 2017. Pada Tanggal 19 Agustus 2017, sosialisasi dilakukan di lingkup gereja yaitu kepada jemaat GKS Weerame dan para mentor PPA di gedung ibadah GKS Weerame.
Periode Bulan September sampai dengan November 2017, sosialisasi rutin tetap dilakukan pada Posyandu, Lingkup Gereja dan PAUD. Ditengah gencarnya sosialisasi PATBM, terjadi hal – hal yang tidak diinginkan yaitu percobaan perkosaan kepada anak oleh tetangga yang sudah lanjut usia. Hal ini terjadi karena anak ditinggal sendirian karena ayahnya sibuk bekerja sebagai tukang dan ibunya lagi menimba air di mata air.  Pelaku kekerasan  adalah tetangga yang sudah dianggap keluarga sendiri sehingga si ibu tidak merasa curiga atau keberatan ketika anaknya ditinggal sendirian di rumah bersama pelaku tersebut. Ketika kedapatan, Ibu korban segera melapor ke kepala dusun setempat dan kepala dusun beserta aparat desa membawa pelaku ke Unit PPA Polres Sumba Barat Daya untuk di proses secara hukum. Salah satu Aktivis PATBM yang juga merupakan guru dari si korban melakukan pendampingan dan konseling kepada korban sehingga korban tidak larut dalam trauma psikologi yang berkepanjangan serta korban  dapat bersekolah kembali seperti biasa.
Pada Tanggal 29 September 2017, Aktivis PATBM melakukan pertemuan dengan aparat desa untuk membahas kegiatan PATBM sekaligus membahas tentang percobaan perkosaan kepada anak oleh tetangga dan penegasan kepada keluarga untuk selalu waspada sehingga kejadian percobaan perkosaan tidak terjadi lagi di Desa Weerame. Pada kesempatan ini, Aktivis PATBM juga melakukan pendataan kepada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Dari hasil pendataan ditemukan 4 (empat) orang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sejak lahir dan ada yang setelah berusia BALITA. Salah satu faktor penyebab adalah kurangnya pemahaman orang tua akan kesehatan dan juga kurangnya sarana fasilitas kesehatan serta ketidakmampuan orang tua untuk merujuk atau melakukan pemeriksaan sejak dini ke rumah sakit yang lebih besar di luar pulau Sumba.
Berdasarkan data ABK yang ada di Desa Weerame, maka pada Tanggal 10 November 2017, Aktivis PATBM melakukan pertemuan dengan orang tua ABK dan melakukan sosialisasi tentang Hak – Hak Anak termasuk ABK, sekaligus melakukan sharing tentang situasi dan kondisi ABK dan cara penanganan ABK. Kondisi ke 4 (empat) ABK adalah 1 (satu) anak dapat mengenyam dunia pendidikan walaupun dengan kondisi sulit berjalan dan berbicara tapi karena kemauan yang kuat dari ABK untuk bersekolah akhirnya orang tua walaupun sudah pasrah dengan keadaan anak tetapi selalu setia untuk mengantar anak ke sekolah, sehinggai ABK tersebut dapat mengenyam bangku sekolah sampai pada  kelas 6 SDM Weerame. 3 (tiga) ABK yang lain tidak sempat mengenyam dunia pendidikan, ada ABK yang mengalami tuna ganda yaitu tuna netra, tuna wicara sejak lahir, dan juga  tuna daksa yaitu kaki kanan dan tangan kanan tidak bisa difungsikan. Ada seorang ABK yang tidak bersekolah, namun mampu membaca dan menulis dengan baik, berkat bimbingan orang tua, ABK ini juga memiliki kreatifitas untuk membuat tas, keranjang, tempat tisu dari barang – barang bekas dan hasil karyanya telah dipasarkan kepada masyarakat setempat.
Aktivis PATBM di Desa Weerame, selain melakukan sosialisasi PATBM juga melakukan sosialisasi tentang hak dan kewajiban anak, reproduksi remaja dan juga membentuk Forum Anak Desa pada Tanggal 9 November 2017. Forum Anak berasal dari SDM Weerame dan SMP Masehi Kristen Weerame, dengan bersekretariat di Kantor Desa Weerame. Diharapkan Forum Anak Desa,   dapat bekerjasama dengan Aktivis PATBM untuk melakukan kegiatan PATBM di Desa Weerame.
Permasalahan yang dihadapi dalam melakukan Gerakan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) sebagai berikut : belum adanya perencanaan, pembiayaan dan penganggaran khusus untuk PATBM, kesibukan para aktivis dengan tugas/pekerjaan dan urusan adat istiadat serta urusan keluarga yang sangat menyita waktu sehingga kegiatan PATBM belum optimal, tingkat pemahaman masyarakat yang masih rendah yaitu masyarakat masih menganggap mendisiplinkan anak selalu identik dengan kekerasan, tidak adanya fasilitas khusus untuk aktivis PATBM seperti kamera, laptop dan printer sehingga para aktivis mengalami kesulitan untuk mendokumentasikan kegiatan – kegiatannya dan juga untuk mengetik laporan kegiatan.
Upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah diatas adalah untuk merubah pola pikir dan pola perilaku masyarakat bukanlah sesuatu hal yang mudah, untuk itu diperlukan sosialisasi yang terus menerus, untuk kegiatan PATBM, sosialisasi masih merupakan kegiatan prioritas yang bertujuan untuk merubah pola pikir masyarakat dan diharapkan dengan adanya dana desa untuk Tahun Anggaran 2018, maka aktivis PATBM dapat melakukan kegiatan nyata yang lain selain sosialisasi. Kegiatan PATBM untuk Tahun 2016 sampai dengan 2017 merupakan kegiatan insidentil dan belum melalui suatu perencanaan dan penganggaran khusus, untuk pelaksanan kegiatan PATBM, dananya bersumber dari swadaya aktivis PATBM Desa Weerame.
Kegiatan PATBM di Desa Watukawula, Kecamatan Kota Tambolaka periode November 2016 sampai dengan November 2017 adalah sebagai berikut : Kader/Aktivis PATBM Desa Watukawula mempunyai tugas untuk mengenalkan PATBM dan menggerakkan partisipasi warga untuk ikut menjadi sukarelawan PATBM, membangun tim PATBM untuk memperkenalkan pola asuh anak kepada lingkungan keluarga, membangun kesadaran masyarakat untuk pola hidup sehat melalui kegiatan di Posyandu, membuat daftar pemetaan kegiatan – kegiatan perlindungan anak dan membentuk Badan Pengurus PATBM Desa Watukawula. Struktur Organisasi PATBM Desa Watukawula sebagai berikut : Ketua atas nama Sesilia Bela Rouna, Marcelina Thena Bolo sebagai Sekretaris, Maria Ansila Rahmawati sebagai Bendahara, Seksi Acara/Kegiatan adalah Damianus L. Ngongo dan Yohana Bobo, Seksi Humas adalah Markus Ngongo dan Getrudis Milla, Seksi Konsumsi adalah Damiana Wada Mali dan Ernesta Nida Moto.
Aktivis PATBM Desa Watukawula melakukan rapat perdana bertempat di rumah Kepala Desa Watukawula pada Tanggal 14 November 2016, untuk membahas Rencana Tindak Lanjut (RTL) PATBM yang akan dilakukan di Desa Watukawula, dengan melibatkan semua elemen masyarakat dan hasil kesepakatannya adalah kegiatan PATBM di Desa Watukawula akan disesuaikan dengan kegiatan – kegiatan desa. Dalam melaksanakan kegiatan PATBM di tingkat desa, aktivis juga melibatkan Fasilitator untuk pengembangan PATBM yaitu relawan yang peduli terhadap isu perlindungan anak dan bersedia di beri tugas untuk melakukan sosialisasi pada Triwulan I, II III dan IV (Bulan Januari sampai dengan Desember 2017).
Kegiatan PATBM Triwulan II (April sampai dengan Juni 2017) yaitu Pada Tanggal 16 Mei 2017 melakukan sosialisasi PATBM kepada Guru dan siswa SD Kelas IV, bertempat di Kalaki Kombe, pada Triwulan III yaitu pada Tanggal 10 September 2017, melakukan Sosialisasi PATBM di Gereja Katolik St. Ignatius Loyola, Stasi Omba Tana Rara dan Gereja Katolik St. Yosep Weelonda dengan target sasaran adalah seluruh umat serta anak – anak Serikat Misioner Indonesia (SEKAMI).
Triwulan IV (Oktober sampai dengan Desember 2017), Pada Tanggal 10 Oktober 2017 melakukan Sosialisasi di Posyandu Kareka Mangeda, target sasaran adalah Kader Posyandu dan Ibu Rumah Tangga, Tanggal 2 November 2017, melakukan Sosialisasi PATBM, Sosialisasi HIV AIDS sekaligus membentuk Forum Anak. Tanggal 8 November 2017, melakukan Sosialisasi PATBM di Kantor Desa Watukawula dengan sasaran adalah Pelajar SMP 4 dan Perwakilan masyarakat. Tanggal 9 November 2017, Sosialisasi PATBM sekaligus latihan menyanyi bagi anak – anak SEKAMI di Reda Kota, Tanggal 11 November 2017 melakukan kegiatan permainan volley bagi anak – anak SEKAMI bertempat di Kasimo Karerobbo.
Dalam pelaksanaan kegiatan PATBM di Desa Watukawula, banyak kendala yang dihadapi yaitu tidak adanya sertifikat pelatihan yang merupakan bukti sebagai Kader/Aktivis PATBM terlatih, Dana operasional kegiatan masih bersumber dari  iuran  Badan Pengurus PATBM Desa dan belum adanya perencanaan dan penganggaran khusus untuk PATBM, minimnya saran dan prasarana seperti, komputer, LCD dan Printer, tidak adanya kartu tanda pengenal Aktivis PATBM dan juga kendaraan operasional. Walaupun dengan keterbatasan anggaran, sarana dan prasaran tetapi semua itu tidak mematahkan semangat para Aktivis PATBM Desa Watukawula untuk melakukan sosialisasi PATBM secara rutin dan terus menerus untuk merubah pola pikir dan pola perilaku masyarakat akan pentingnya peran masyarakat dalam memberikan perlindungan kepada anak.
Aktivis PATBM tidak hanya melakukan sosialisasi saja, tetapi juga melakukan kegiatan pengembangan minat dan bakat anak melalui pusat kreatifitas anak berupa aktivitas seni dan olahraga yaitu Permainan Bola Volley, Bola Kaki, Menari dan Menyanyi.  Untuk membangun pusat kreatifitas anak membutuhkan anggaran serta sarana dan prasarana.
Semoga para Aktivis PATBM Desa Weerame dan Desa Watukawula tetap bersemangat untuk memperjuangkan hak – hak anak yang merupakan generasi penerus bangsa. Salam Berlian, Bersama Lindungi Anak,  Sekian dan Terima kasih. (Valentia Liliana Sanam)
Kader/Aktivis PATBM Desa Watukawula
Kader/Aktivis PATBM Desa Weerame