Pentingnya Data ABK

322
Jakarta, (KLA.or.id) – Keberadaan ABK/penyandang cacat masih terabaikan dan mengalami isolasi, penolakan, diskriminasi dan berbagai hambatan psikologis serta kultura oleh orang tua, keluarga maupun masyarakat disekitarnya. Hal ini disampaikan oleh Wendy, Kepala Sekolah Tinggi Ilmu Statistik pada saat pertemuan seminar hasil publikasi data gender dan anak di hotel salak bogor (24-26/11).

Seminar ini bertujuan untuk mempublikasikan hasil data gender dan anak yang dilaksanakan oleh Asdep Informasi Gender berkerjasama dengan BPS pada tahun 2011.”Dari hasil data tersebut ternyata ada 2 juta jiwa atau 0,92 persen penyandang cacat dari total penduduk tahun 2009 (213,7 juta jiwa), seperlima (20,64 persen) dari total penyandang cacat adalah penduduk yang berusia 0-17 tahun kata Wendy menjelaskan. Seminar ini diikuti oleh peserta pusat dan daerah, terdiri dari semua kabid data pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, wakil dari 10 Propinsi (Banten, Lampung, Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan Barat NTB, Kalimantan Selatan, Sulsel, sultra, Jateng)

Lies Rodiana, Asdep Informasi Gender mengharapkan tersedianya informasi terkini tentang perempuan, anak serta tersedianya indikator GDI dan GEM serta tersosialisasinya data dan informasi gender terkini sebagi pembuka wawasan untuk mengetahui isu gender diberbagai bidang (ani).