Pertemuan 5 Pilar, Prov. Sulsel Membahas , tentang Upaya Pencegahan Perkawinan Anak

256

Makassar (kla.id)

Dengan semakin maraknya kasus Perkawinan Usia Anak saat ini,khususnua di Provinsi Sulawesi Selatan, maka berbagai upaya telah dilakukan dengan berkolaborasi Lembaga Pemerintah dan Non Pemerintah untik mencari solisi terbaik dalam upaya pencegahan perkawinan anak di Sulsel.
Sebagai tindak lanjut sosialisasi Stop perkawinan anak di Kab. Maros yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kab. Maros bekerjasama dengan AIPJ , pada tanggal 18 september 2018 dilaksanakan Pertemuan 5 pilar sebagai ujung tombak dalam upaya pencegahan perkawinan anak. Pertemuan 5 Pilar (Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Prov. Sulsel,
Dinas Kesehatan, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Kantor Wilayah Kementrian Agama dan Pemgadilan Agama Prov.Sulsel ) dilaksanakan di Ruang Rapat Dinas PPPA Provinsi Sulsel, yang dihadiri oleh kurang lebih 30 undangan, yang difasilitasi oleh Dinas PPPA Prov. Sulsel.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Pengadilan Agama Prov. Sulsel mengatakan kegiatan ini sangat baik dilaksanakan untuk mencari solusi memurunkan angka kasus perkawinan usia anak. Tidak bisa dipungkiri salah satu faktor penyebab tertinggi adalah desakan ekonomi keluarga, ujar kepala Pengadilan Tinggi Agama Prov. Sulsel.Lebih lanjut Kepala kantor wilayah Kementrian Agama Prov. Sulsel , H. Anwar AbubakaR,SPd,MPd. Mengatakan bahwa kementrian agama juha telah melakukan kerjasama dengan Dinas Kesehatan, dimana setiap pasangan yang akan menikah diperiksa kesehatannua terlebih dahulu termasuk dengan melihat umur calon pengantin, apa sudah siap untul menikah atau tidak. Meskipun demikian lanjutnya hal ini masih dibeberapa lokasi saja di Kota Makassar, belum seluruhnya.
Kepala Dinas PPPA, Drs. Askari, MSi, menambahkan bahwa sebaiknya anak-anak menikah untuk perempuan minimal 20 tahun dan laki-laki 25 tahun. Dan tuhas kita semua untuk bersama-sama melindungi anak-anak kita.


Cukup banyak masukan yang disampaikan oleh 5 pilar ini, termasuk usulan dan arahan dari Ibu Nur Anti, SE,Mt, yang mengatakan bahwa data sangat penting dalam menyusun upaya-upaya yang akan dilaksanakan dalam pencegahan perkawinan usia anak, kita sudah mempunyai Instruksi gubernur tentang Stop Perkawinan Usia Anak namun seruan ini belum didengar oleh masyarakat, sehingga, melalui pertemuan ini kami akan membagikan instruksk gubernur ini, untuk pengembangam upaya pencegahan perkawinan usia anak kedepan.
Pertemuan 5 pilar ini berlangsung sangat alot, dan menghasilkan kesimpulan dari semua masukan dari 5 pilar ini, yang akan menjadi bahan untuk dapat bersama-sama melakukan upaya-upaya pencegahan perkawinan usia anak yang terbaik bagi kepentingan anak-anak kita (AND)