Pontianak Kota Layak untuk Anak, Siapkah?

417

Semaraknya dunia anak-anak memberi warna tersendiri bagi kehidupan. Derai tawa anak-anak mampu melepaskan kepenatan dan juga kerumpilan hidup, seakan-akan kepolosan mereka menjadi hiburan tersendiri. Belum lagi dengan sinaran matanya yang bening yang memancarkan isi jiwa yang benar-benar bersih sehingga patut sekali jika anak-anak diibaratkan sebagai warisan terpenting bagi kehidupan. Tanpa anak-anak dunia tentu tidak akan semarak dan bisa saja terhenti dengan sendirinya
Hanya saja, dalam kehidupan itu sendiri bisa kita saksikan bahwa nyatanya anak-anak malah menjadi objek terlemah dalam hal kekerasan dan juga penjual-belian. Akses untuk melakukan kekerasan dan penjual-belian anak-anak begitu mudah dilakukan sebab tanpa kita sadari kita sendiri turut terlibat didalamnya, kita ikut menciptakan lingkungan yang menjadikan mereka objek kekerasan dan penjual-belian.

Dalam issu internasional yang pada tahun 2007 pernah Indonesia angkat di forum pertemuan Menteri-menteri Pemberdayaan Perempuan dari 22 negara anggota PBB dimana Delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan Mutia Hatta, dimana issu itu adalah mengenai Girl Child. Wanita dan anak-anak yang hingga saat ini terus mengalami perkembangan kearah peningkatan status sosial mereka di masyarakat. Hanya saja, manakala issu Girl Child menjadi issu yang menarik untuk dibahas di forum internasional, justru kita dihadapkan pada kenyataan masih adanya wanita dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan juga penjual-belian. Kasus yang terjadi terakhir adalah 3 anak-anak yang terindentifikasi melakukan pelacuran dengan alasan yang naif untuk kita dengar dan tetap menjadi lagu lama yakni desakan ekonomi. Tiga anak-anak gadis yang dibawah umur itu pun didiagnosa terjangkit penyakit kelamin sebab aktivitas seksual mereka tidak dibarengi dengan bekal pendidikan sex yang cukup. Issu Girl Child meski sudah 1 tahun ternyata belum bisa juga menuntaskan dilema negatif yang melekat pada stasus sosial wanita dan anak-anak di masyarakat yang tetap menjadi objek kekerasan dan penjual-belian.

Kota Pontianak sebagai kota besar saat ini harusnya mulai bersiap-siap bahkan mungkin kalo perlu siaga untuk menjaga adanya tindak kekerasan dan juga penjual-belian wanita dan anak-anak. Belajar dari adanya kasus yang terjadi di Pontianak minggu-minggu yang lalu, seharusnya banyak pihak yang segera menyikapinya. Kita harus segera bersikap, menjadikan Kota Pontianak sebagai Kota yang layak untuk anak-anak. Apakah siap?!?

Siap-tidaknya bukan jawaban akhir. Semua elemen masyarakat harus segera bersiap untuk menjadikan Kota Pontianak sebagai kota yang layak untuk anak-anak. Hal yang terjadi pada anak-anak kita bukan lagi menjadi pekerjaan rumah bagi aparat kepolisian yang memiliki payung hukum atas setiap tindak kekerasaan dalam rumah tangga, atau menjadi tugas sukarela dari lembaga-lembaga sosial yang mengurusi setiap kasus pada wanita dan anak-anak. Kita… Saya dan Anda jelas menjadi bagian yang turut menjadikan Kota Pontianak kota yang layak untuk anak.

Sebuah saran yang mungkin perlu kerjasama yang kuat untuk mewujudkannya namun jika kita yakin kita bisa untuk menggulirkannya menjadi sebuah kenyataan. Seperti contohnya jika di luar negeri mereka punya jalur telepon 911, kenapa Kota Pontianak tidak bisa mempunyainya? Kita harus memiliki jalur telepon khusus dalam kota yang tugasnya menerima pengaduan anak-anak hilang…melarikan diri…yang diperjual-belikan ataupun yang telah mendapatkan tindak kekerasaan. Kerjasama yang menuntut kerelaan untuk menjadikan Kota Pontianak kota layak untuk anak-anak dimana bukan menjadi tugas dari Pemerintah dan aparat kepolisian ataupun juga lembaga sosial saja, akan tetapi kita pun turut serta juga didalamnya.

Tidak mudah memang mewujudkan Kota Pontianak sebagai Kota layak bagi anak-anak apalagi terbentur berbagai sistem yang kaku maupun pendanaan yang kuat agar kota ini layak untuk melindungi anak-anak. Ketidakmudahan memang akan banyak kita temui dalam mewujudkan Kota Pontianak sebagai kota yang layak untuk anak-anak, namun kita harus berupaya untuk mewujudkannya. Jika kita tidak berupaya mewujudkannya, maka mungkin saja akan terputus mata rantai dari generasi setiap anak-anak. Bagaimana tidak ketika sebagian anak-anak yang hidup layak dengan dukungan penuh dari keluarga bisa mencapai prestasi hingga mampu menembus setiap event yang diadakan oleh dunia internasional, sementara anak-anak lain yang bisa dikatakan tidak beruntung justru menjadi bagian dari sebuah lingkaran yang menjebak mereka dalam tindak kekerasan…penjual-belian…pelacuran…korban sodomi bahkan mereka terjebak pada dunia hitam yang kita sendiri berusaha untuk tidak memasukinya.

Kota Pontianak memang harus bersiap menjadi kota layak untuk anak-anak. Tanpa kesiapan kemungkinan kasus-kasus yang sama akan ditemui kembali bahkan mungkin lebih memiriskan rasa kita sebagai manusia. Kita akan menjaga mereka, sebab tanpa anak-anak, dunia tidak lagi semarak dan penuh warna. Hentikan segera eksploitasi terhadap mereka karena dunia mereka masih teramat murni untuk kita rasuki dengan hal-hal yang kotor. Siapkan segera kota Pontianak untuk menjadi kota yang layak bagi anak-anak. Tugas kita semua…Anda dan Saya. Selamat Hari Anak…di masa akan datang Kota Pontianak akan menjadi Kota Yang Layak Bagi Anak-anak. *