RASS: Sedikit Empati untuk Selamatkan Orang Lain

216

Gorontalo, kla.org- Keselamatan anak di jalan bukan hanya persoalan lokal, akan tetapi telah menjadi persoalan global. World Health Organization (WHO) mendukung World Youth Assembly for Road Safety 2007 untuk mempromosikan peran anak dan remaja dalam pencegahan kecelakaan lalu lintas. Hal ini disampaikan oleh Ir. Hj. Nontje Lakadjo, Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan dan Kesra Setda Provinsi Gorontalo pada acara “Uji Publik Draf Pedoman Penyusunan Rute Aman dan Selamat Ke Sekolah’ di Hotel Paradise, Gorontalo (15/12).

Menurut Gusnar Ismail, Gubernur Gorontalo yang dikutip oleh Ahmad Saud, Kasubdit Perhubungan Darat, Dinas Perhubungan dan Pariwisata Provinsi Gorontalo bahwa “Sedikit Empati untuk Selamatkan Orang Lain”. “Untuk menerjemahkan himbauan Gubernur, Dinas Perhubungan dan Pariwisata telah ambil langkah-langka dengan mencitpakan 6 Zona Selamat Sekolah di sekolah percontohan di Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten Bualemo” Saud.

Selain itu Pemerintah Provinsi melalui APBD dan APBN menyediakan fasilitas Bus Gratis di empat kabupaten untuk melayani anak-anak yang ada di daerah sulit transportasi dan menyediakan Bus Perintis untuk anak-anak yang ada di daerah terpencil yang ada di daerah Buba’a, Pangea, danBundawuna. “Upaya lain untuk meningkatkan keselamatan anak di Gorontalo membagikan “Helem Junior” kepada anak sekolah yang membonceng motor ke sekolah, melakukan sosialisasi, dan pemasangan fasilitas keselamatan” tegas Saud.

Zona Selamat Sekolah bertujuan untuk mencegah dan menanggulangi kecelakaan lalu lintas di sekitar sekolah melalui pendekatan komprehensif 4 M yaitu Motivasi–Mendidik–Menegakkan Hukum–Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas.

Sedangkan tujuannya adalah mendidik anak sejak dini untuk taat hukum–beretika–berempati dalam berlalu lintas di jalan serta peduli terhadap lingkungan sehat; mendidik masyarakat di sekitar sekolah selaku pengguna jalan untuk memberi hak jalan kepada pejalan kaki dan pesepeda secara umum, dan bagi murid-murid sekolah secara khusus, melalui program manajemen dan rekayasa lalu lintas di sekitar ZoSS; menekan peluang terjadinya kecelakaan dengan biaya minimum melalui tindakan komprehensif dan multi program; dan terbentuk kemitraan antara komunitas sekolah, pemerintah daerah, dan pihak-pihak lain yang berkomitmen.

Menurut Data WHO lebih dari 3.000 orang mati di jalan-jalan di dunia setiap hari. Puluhan juta orang yang terluka atau cacat setiap tahun. Berdasarkan WHO bahwa kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama kematian anak dan remaja usia 10-18 tahun. Setiap tahun hampir 400.000 anak yang meninggal di jalan di dunia atau rata-rata 1.000 anak sehari.

Sebagian besar kematian tersebut terjadi di negara berpenghasilan rendah dan di antara pengguna jalan yang rentan adalah pejalan kaki, pengendara sepeda, pengendara motor dan penumpang kendaraan umum.

Menurut Hamid Patilima, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia bahwa “Sesunguhnya kecelakaan lalu lintas dapat diatasi.” Banyak muncul pertanyaan mengapa begitu banyak anak yang terlibat dalam kecelakaan lalu lintas. Anak adalah pengguna jalan yang berisiko mengalami kecelakaan di jalan dari sejumlah alasan bahwa “Perencanaan jalan tanpa mempertimbangkan secara memadai kebutuhan anak secara khusus; belum mempertimbangkan karakteristik fisik anak; belum mempertimbangkan perilaku yang berisiko seperti ngebut, tidak menggunakan helm atau tidak mengenakan sabuk pengamanan.”, tegas Hamid.

Sedangan menurut Sri Endah, Kabag Data Asdep Lingkungan dan Nilai-nilai Luhur Selain itu kecelakaan lalun lintas dapat dicegah dengan sejumlah intervensi yang ditargetkan telah terbukti efektif dalam mengatasi faktor resiko dan mengurangi kecelakaan lalu lintas di kalangan anak. Intervensi ini menurut WHO termasuk memisahkan berbagai jenis pengguna jalan, mengurangi kecepatan, batas usia mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM).

Deklarasi Remaja Untuk Keselamatan Jalan

 

Deklarasi Remaja untuk Keselamatan Jalan 2007, anak dan remaja menyerukan untuk ambil tindakan (WHO, 2007):

§ Orang tua dan wali menciptakan lingkungan yang aman bagi anak dan remaja dan mengajarkan aturan di jalan.

§ Institusi pendidikan untuk memasukkan keselamatan di jalan dalam kurikulum dari pendidikan usia dini, melakukan dan mempublikasikan hasil penelitian tentang pencegahan kecelakaan lalu lintas.

§  Tokoh masyarakat untuk aktif dalam kelompok keselamatan, berinisiatif dan melibatkan diri dalam pencegahan kecelakaan lalu lintas.

§  Pembuat kebijakan untuk menempatkan keselamatan di jalan lebih utama pada agenda politik dan mendorong kemitraan dengan organisasi berbasis masyarakat untuk mempromosikan keselamatan di jalan dan mengadopsi jaringan yang efektif.

§  Perusahaan negara/daerah dan perusahaan swasta untuk mengakui tanggung jawan sosial mereka dalam mengembangkan produk yang aman untuk mengatasi kematian dan cedera karena kecelakaan lalu lintas sebagai persoalan global dan pembangunan kesehatan yang mempengaruhi jutaan orang setiap tahun.

§  Para selebriti dan industri hiburan sebagai model untuk mempromosikan perilaku lalu lintas yang aman, tidak hanya berperan, tetapi juga dalam kehidupan pribadi mereka.

Acara uji publik yang berlangsung selama sehari dihadiri oleh wakil dari Polda Gorontalo, Polresta Gorontalo, Dinas Pendidikan, Dinas Perhubungan dan Pariwisata, SMP, SMA, UNG, dan LSM. Setelah pemaparan para narasumber, peserta dibagi 2 kelompok untuk membahas dokumen tersebut.

Melalui acara ini diharapkan semua masukkan dapat terakomodasi, dan terpenting terbangun kesepakatan dan komitmen untuk kepentingan terbaik anak melalui Rute Aman dan Selamat ke Sekolah, tegas Nontje.