Selain Anak, Orang Tua dan Guru berpotensi melakukan Bully

331

Bulukumba (Kla.id)
Bullying atau perundungan sangat buruk terhadap perkembangan mentalitas anak. Bullying sesungguhnya bukan hanya terjadi antar anak-anak. Orang tua bahkan guru sekalipun memiliki potensi melakukan prilaku bully terhadap anak.
Demikian beberapa bagian materi sosialisasi anti bullying terhadap anak yang dibawakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bulukumba bekerjasama dengan jajaran SMP Negeri 9 Bulukumba, Jum’at 8 Juni 2018.


Di depan ratusan orang tua siswa SMP Negeri 9 Bulukumba, Muhajir Ganie yang mewakili Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bulukumba, menjelaskan dampak buruk bully yang marak terjadi dalam lingkungan pendidikan maupun lingkungan masyarakat luas.
“Dalam tingkat yang parah, korban bullying bisa trauma berat dan berujung bunuh diri,” katanya.
Bullying atau perundungan adalah merupakan perilaku agresif yang melibatkan ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dengan korban bully. Tindakan tersebut terjadi berulang-ulang. Menurut Kasubag Umum dan Kepegawaian Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bulukumba itu, tindakan bullying dapat berbentuk verbal yang meliputi tindakan mengatakan atau menuliskan sesuatu yang memalukan, memanggil dengan panggilan mengejek, komentar berbau seksual, dan prilaku verbal yang tidak pantas terhadap orang lain dan dilakukan berulangkali. Kemudian ada bullying sosial atau relasional dimana pelakunya melakukan perusakan reputasi seseorang sehingga korbannya terkucilkan dari kelompok. Ada juga bullying fisik berupa menyakiti seseorang secara fisik atau isyarat. Perbuatan itu bisa berbentuk memukul, meludahi, mendorong dan lain-lain. Selanjutnya ada yang disebut cyberbullying yaitu tindakan mengirim pesan mengejek, gosip, posting gambar yang memalukan terhadap korban dengan menyebarkannya melalui media seperti email, media sosial, situs internet, SMS, whatshaap dan sebagainya.
Kegiatan yang dilaksanakan di aula SMP Negeri 9 Bulukumba itu juga berusaha memberi pemahaman kepada orang tua siswa tentang tanda-tanda anak yang mengalami bullying. “Biasanya anak korban bully memperlihatkan gejala seperti kecemasan yang meningkat ketika membicarakan tentang sekolah. Tidak mau atau tidak ingin masuk sekolah, memar yang tidak ingin mereka jelaskan penyebabnya kepada orang tua. Nilai ujian makin turun.
“Umumnya anak korban bully menjadi prustasi, bahkan dalam kondisi parah, nekad ingin bunuh diri, ” paparnya.
Lebih lanjut Muhajir menjelaskan bahwa bullying bisa terjadi dimana saja. “Bahkan bully bisa terjadi di rumah oleh orang tua terhadap anak, anak dengan anak. Di sekolah, hal yang samapun dapat terjadi. Apalagi melalui media sosial, bully sangat sering terjadi,” bebernya.
Sementara itu Abdul Aziz Kepala SMP Negeri 9 Bulukumba menghimbau kepada segenap orang tua siswa agar mengawasi anak-anaknya agar tidak mengalami bully. “Kita juga sangat berharap dengan memahami dampak buruk bullying, para orang tua dapat mendeteksi terjadinya bully, baik selaku korban maupun pelaku. Dengan demikian jika hal itu terjadi, kita dapat mengambil tindakan yang bijak untuk menyelesaikan persoalannya,” kata Abdul Aziz.
Kepala SMP Negeri 9 itu juga meminta kepada para orang tua siswa jika menemukan kasus bully menimpa anaknya untuk segera berkonsultasi dan berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk penyelesaian terbaiknya.


Sementara itu, Muh. Kasim, Kasi Perlindungan Khusus Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bulukumba yang turut berbicara pada kegiatan sosialisasi anti bullying di SMP Negeri 9 meminta kepada segenap orang tua siswa memahami hak-hak anak, seperti hak untuk bermain dan mendapatkan pendidikan.
Menurut Muh. Kasim, banyak orang tua memaksa anaknya berhenti sekolah dan memilih menikahkan anak pada usia masih belia. Akibatnya, hak anak untuk belajar tidak terpenuhi padahal Undang-undang Perlindungan Anak melarang pernikahan dini. (Laporan Muhajir Ganie)