Setiap Anak Berhak Mendapatkan Gizi Seimbang

335

Aliya Baskoro Yudhoyono, penerima Indonesia Millennium Development Goals (MDGs) Awards terbaik di bidang Akses Air Minum Layak dan Sanitasi Dasar

Setiap bayi dan anak berhak mendapatkan gizi seimbang. Hal ini disampaikan oleh Aliya Baskoro Yudhoyono, penerima Indonesia Millennium Development Goals (MDGs) Awards terbaik di bidang Akses Air Minum Layak dan Sanitasi Dasar, pada Seminar Sehari “Peran Pengasuhan Keluarga dalam Pemenuhan Gizi dan Tumbuh Kembang Anak” di Ruang Mataram, Gedung Karya, Kementerian Perhubungan (25/6).

Aliya Baskoro Yudhoyono berbagi pengalaman dalam membangun dan mensejahterakan anak Indonesia menyebutkan bahwa “Seorang bayi atau anak perlu mendaptkan gizi seimbang.”

Kurang gizi pada anak menghambat perkembangan kognitif dan mempengaruhi status kesehatan pada usia remaja atau dewasa. Menurut Sonny Harry B. Harmadi, Demograf dari Universitas Indonesia mengatakan bahwa “Status gizi anak usia di bawah lima tahun merupakan indikator kesehatan publik yang secara internasional dikenal untuk memonitor kesehatan dan status gizi penduduk.” “Ada tiga indikator status gizi anak balita, yaitu berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur, dan berat badan menurut tinggi badan,” urai Sonny.

Pembicara dan Moderator

Sonny mengungkapkan bahwa “Setengah dari jumlah balita Indonesia mengalami masalah gizi.” Diperkirakan terdapat sekitar 18 persen (4,1 juta) balita gizi buruk atau kurang, 14 persen (3,2 juta) balita gizi lebih, 36,8 persen (8,3 juta) balita gizi kronis (pendek), dan 13,6 persen (3,1 juta) balita mengalami gizi akut (kurus).

Gizi kurang atau buruk menjadi salah satu di antara penyebab kematian utama pada balita di negara sedang berkembang. Menurut Damayanti Rusli Syarif, Kepala Divisi Nutrisi dan Penyakit Meabolik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI, bahwa “Gizi buruk kemungkinan menyebabkan kematian sekitar 50 persen.” “Dikarenakan terlalu lemah untuk duduk dan mudah terkena infeksi saluran nafas,” tegas Damayanti. Selain itu Damayanti menyebutkan masalah gizi balita di Indonesia masih tinggi, untuk mengatasinya pendekatan utama adalah deteksi dini masalah gizi serta praktik pemberian makan yang benar pada 1000 hari pertama kehidupan.

Berdasarkan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2003), bahwa “Pemberian makan bayi yang benar adalah inisiasi menyusu dini yaitu kurang sejam setelah bayi lahir, ASI eksklusif selama 6 bulan, Makanan Pendamping ASI diberikan paling lambat pada usia 6 bulan sambil melanjutkan pemberian ASI, dan memberikan Makanan Pendamping ASI tepat waktu, kandungan nutrisi cukup dan seimbang, aman, dan diberikan dengan cara yang benar,” ujar Damayanti.

HAN 2013

Seminar sehari merupakan salah satu rangkaian utama perayaan Hari Anak Nasional 2013. “Melalui HAN 2013 ini, komitmen bagi peningkatan pemenuhan hak dan perlindungan anak Indonesia dapat terus dibangun,” harap Linda Amalia Sari, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada saat pembukaan seminar.

Linda Amalia Sari, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada saat pembukaan seminar

Seminar yang dimoderatori oleh Harsya Subandrio mendapat dukungan dari Kementerian Perhubungan, Sarihusada, dan Tupperware. Seminar yang dihadiri oleh kurang lebih 300 peserta yang berasal dari perwakilan pelajar, organisasi perempuan dan anak, dan perwakilan dari kementerian dan lembaga menampilkan group musik kulintang pada sela-sela acara seminar.