Suku Kajang Menjadi Salah Satu Wilayah yang Mendapatkan Kunjungan dari KPPPA RI dan Tim DPPPA Prov. Sulsel

114

Bulukumba (kla.id)

Sebagai tindak lanjut Pertemuan Forum Koordinasi Pendamping Anak Kelompok Minoritas dan Terisolasi yang diselenggarakan di Hotel Santika pada tanggal 11 april 2019, dimana tujian dilaksanakannya pertemuan ini adalah untuk menyempurnakan buku panduan perlindungan anak yang dibuat bagi anak kelompok minoritas dan terisolasi. Untuk memaksimalkan penyusunan buku panduan ini, maka dilaksanakanlah kunjungan lapangan pada beberapa wilayah dengan kelompok minoritas. Untuk Itu KPPP RI setelah berkoordinasi dengan Dinas PPPA Sulsel menunjuk Suku Lajanh sebagai salah satu wilayah yang akan dikunjungi.

Sehingga pada hari senin, tanggal 22 april 2019, dilakukan kunjungan kerja ke Suku Kajang, dengan mengajak beberapa opd terkait dalam rangka mendukung perlindungan anak di wilayah minoritas ini.
Ikut pada kunjungan kerja ini, Kepala Bidang Perlindungan Anak Kelompok Minoritas dan terisolasi, Nanang A. Rahman sebagai ketua tim beserta 3 org anggota tim diantaranya Ibu Karina, beliau adalah Tim penyusun buku panduan ini, Bu Winda, kepala seksi anak pada kelompok minoritas dan terisolasi dan staf KPPPA, Ibu Raisa.
Sementara dari Dinas PPPA Prov. ikut mendampingi Kepala Bidang PHPA, Nur anti dan Kepala seksi PKA, A.Nurseha. yang didampingi oleh tim dari Dinas PPPA . Sebelum masuk di Suku Kajang Dalam, Harus melapor dulu ke Kepala Desa Kajang, dimana di rumah kepala desa kajang dilakukan pertemuan dengan bbrp opd terkait (dinas pendidikan, sosial, pariwisata, kementrian agama dst) beserta ibu-ibu yang mempunyai anak umuur 18 tahun ke bawa, dengan tujuan agar tim memperoleh masukan dari ibu-ibu apa yang mereka butuhkan untuk memenuhi hak anak dan apa yang sudah mereka lakukan terkait pemenuhan hak dan perlindungan anak diwilayah suku kajang.

Pa’Nanang selaku ketua tim, berharap agar tim mendapatkan masukan yang sebanyak-banyakmya untuk penyempurnaan buku panduan yang akan pakai diseluruh Indonesia, sehingga kami sangat berharap masukan baik dari pemerintah daerah, tokoh adat dan ibu-ibu di suku kajang ujarnya.
Setelah melapor dan sharing dengan opd serta Ibu-ibu suku kajang, tim melanjutkan perjalan untuk masuk di suku kajang bertemu dengan ammatoa, dimana untuk masuk ke kajang harus melepas alas kaki jalan dan memakai baju hitam.
Tim diterima oleh Ammatoa dan melakukan tanya jawab, baik dengan ammatoa (beliau adalah raja di suku kajang) maupun ibu-ibu yang memang dipanggil memberikan masukan untuk sempurnanya buku panduan yang dibuat.
Kami berharap ini merupakan awal dari perhatian pemerintah khususnya dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak pada kelompok minoritas, khususnya suku kajang. Kami akan tetap seperti ini, meskipun anak-anak kami sekolah setinggi-tingginya, tapi mereka harus mematuhi adat yang sudah diatur ujar Ammatoa. Semoga buku panduan ini nantinya dapat berguna bagi orang tua dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak kedepan, ujar Nur Anti, Ka
Bidang PHPA sulsel.