Tunda Pernikahan Dini, Menjadi Topik pada Pelaksanaan Sosialisasi Sekolah SIAGA di Kota Palopo

63

Palopo (kla.id)

Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) sasarannya kepada siswa SMP dan SMA untuk membantu program pemerintah dengan PUP (Penundaan Usia Perkawinan).

Ratusan siswa SMPN 3 dan SMAN 3 Kota Palopo mengikuti orientasi Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) yang diselenggarakan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kota Palopo di dua tempat berbeda. Yakni di Aula SMPN 3 Palopo dan SMAN 3 Palopo.

Kadis PPKB Kota Palopo, Hj Suriani Andi Kaso, SE.,M.Si kepada Palopo Pos mengatakan, Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) sasarannya kepada siswa SMP dan SMA untuk membantu program pemerintah dengan PUP (Penundaan Usia Perkawinan).

”Hal inilah dilakukan sosialisasi di SMP dan SMA untuk membentuk PIK remaja atau genre (generasi berencana) dengan membentuk pojok kependudukan. Untuk menekan angka kelahiran juga diberikan sosialisasi Kesehatan Reproduksi Remaja (KKR). Untuk itu kepada siswa tuntaskan dulu pendidikannya di SD, SMP, dan SMA lalu lanjut ke perguruan tinggi. Setelah sarjana cari lapangan pekerjaan, dan jika ekonomi mapan baru rencanakan menikah,” jelas Hj Suriani Andi Kaso, Jumat 26 Oktober 2018.

Setelah menikah, lanjutnya, programkan 2 anak cukup, laki perempuan jangan dibedakan. Di Kota Palopo tahun 2018, baru 2 sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah percontohan SSK. Yakni SMPN 3 dan SMAN 3 yang merupakan sekolah unggulan.

”Nah, setelah 2 sekolah ini maju dan berkembang SSK-nya akan dikembangkan lagi ke sekolah SMP dan SMA sederajat lainnya. Jadi harapan kami tidak ada lagi korban pernikahan dini di Kota Palopo,” harap mantan Camat Wara Selatan ini kemarin.

“Jadi kita memberikan pemahaman bagaimana pengendalian penduduk, program keluarga berencana, kesehatan reproduksi. Jadi, intinya bagaimana memberitahu para siswa untuk menunda usia perkawinan dini,” ujarnya.

Menurutnya para siswa sangat penting untuk memahami pentingnya mencegah pernikahan usia dini. Pasalnya, saat ini fenomenan menikah di bawah umur marak terjadi di Indonesia, sehingga penting dilakukan sosialisasi seperti ini.

“Anak-anak di SMP inikan belum mengetahui pendewasaan usia pernikahan, kesehatan reproduksi, umur berapa idealnya kita menikah sehingga perencanaan keluarga itu kuat,” tandasnya.

Sosialisasi SSK ini dihadiri 200 siswa ditambah para guru, para penyuluh KB, dan genre PIK Remaja.