Anggota FABT Sebut Tiket Film Silariang Laris Manis

415
Film Silariang diputar di Kabupaten Bantaeng dalam tiga sesi di Hari Minggu.
Nurul Miftahurrahmah (kiri) jual tiket pada seorang pengendara roda dua di salah satu sudut jalan Kabupaten Bantaeng (07/04/18).

Bantaeng, Minggu (08/04/2018). Film Silariang Cinta Yang (Tak) Direstui yang lagi tren di Indonesia bakal diputar hari ini, Minggu 8 April 2018 di wilayah Kabupaten Bantaeng. Pemutarannya mengambil lokasi Balai Kartini Bantaeng di Jalan Kartini, Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Bantaeng. Pihak panitia siapkan 3 sesi pemutaran yakni sesi pagi pukul 10.00-12.00 Wita, sesi siang pukul 13.00-15.00 Wita dan terakhir pukul 15.30-17.30 Wita untuk sesi sore hari.

Salah seorang Anggota FABT (Forum Anak Butta Toa), Ahmad Fathanah mengatakan jika tiket masuk Film Silariang laris terjual. “Pembeli beragam mulai kalangan remaja, dewasa hingga orang tua. Kalau diklasifikasi sesuai jenis kelamin, umumnya kaum hawa. Dalam catatan kami remaja SMA dan mahasiswa yang KKN di Bantaeng banyak membeli tiket ini.”

Lebih lanjut dirinya ungkapkan bahwa pemutaran yang diprakarsai Bonthain Institute dan FABT ini siapkan kurang lebih 1.200 tiket. Tiap sesi ditargetkan terjual 400 tiket, juga 100 lembar sebagai cadangan. Sehingga total 1.300 tiket jadi rebutan warga Bantaeng dan sekitarnya. Pasalnya judul film ini memikat sebagian orang untuk menontonnya.

Bersama dua rekannya, Denis (15) dan Nurul Miftahurrahmah (16), Fathanah yang baru kini berusia 15 tahun sasar kantor-kantor Pemerintah maupun swasta. Dirinya berharap para pegawai maupun pejabat dapat menonton film tersebut sebagai bagian dari merencanakan konsep perlindungan lebih efektif terhadap anak dan perempuan di Butta Toa (Tanah Tua). Dirinya juga berharap banyak hikmah bisa dipetik dari Film Silariang.

Di tempat terpisah, Sulhan Yusuf selaku CEO Bonthain Institute menuturkan bahwa Film Silariang dipertontonkan sebagai proses pembelajaran baik pada anak maupun orang tua. “Janganlah kita selalu berpandangan negatif menyikapi sesuatu. Seperti halnya Film Silariang. Kadangkala kita tidak percaya kompetensi anak-anak kita. Hingga anak berbuat diluar rel sebagai bentuk perlawanan atas sikap kita. Kita tonton saja dan kita simak apa hikmah dibalik itu.” tuturnya.

Sulhan yang dikenal seorang budayawan uraikan ada tiga hal utama dengan pemutaran hari ini. “Rekreasi, Donasi dan Literasi. Ketiganya saling terkait. Adapun seluruh keuntungan akan kita donasikan untuk gerakan literasi di Bantaeng.” tutupnya. (AMBAE)