Bicara di Depan Siswa, Kepala DP3ACSKB Sampaikan Dampak Buruk Pernikahan Usia Anak

103
Bicara di Depan Siswa, Kepala DP3ACSKB Sampaikan Dampak Buruk Pernikahan Usia Anak, Jum’at (3/9/21).(Foto:Huzari)

Bakam (kla.id) – Tingkat perwakinan anak di Bangka Belitung saat ini sangat memprihatinkan. Tahun 2020, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menempati posisi tertinggi untuk perkawinan anak di Indonesia dengan persentase sebesar 18,76 persen. Angka ini jauh di atas angka nasional yang mencapai 10,34 persen.

Demikian dikatakan Dr. Asyraf Suryadin, MPd Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat kegiatan Sosialisasi dan Workshop Bantuan Pemerintah SMK Pelaksanaan Program UKS di SMK Negeri 1 Bakam, Jumat (3/8/2021)

Berdasarkan data pada Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK), Kabupaten Bangka Barat menduduki tingkat perkawinan anak tertinggi di tahun 2020, yaitu sebanyak 312 anak. Sedangkan tingkat perkawinan anak terendah Kota Pangkalpinang dengan 40 anak.

Tingginya angka perwakinan usia anak ini berdampak pada tingginya angka perceraian di Bangka Belitung. Lebih jauh Asyraf menjelaskan, perkawinan usia anak ini juga berdampak pada tingginya angka stunting.

“Angka pernikahan usia anak ini berdampak pada tingginya angka KDRT yang berakhir pada angka perceraian yang tinggi, kasus stunting meningkat, meningkatnya angka kematian ibu dan bayi dan lain-lain,” jelasnya.

Kepala DP3ACSKB Babel memberikan kaos STOP! Kawin Usia Anak. (Foto:Huzari)

Kegiatan yang dilakukan oleh SMK Negeri 1 Bakam ini merupakan salah satu upaya untuk mencegah pernikahan usia anak, khususnya di SMK Negeri 1 Bakam sebagai SMK Pusat Keunggulan (Center of Excelent).

Untuk itu, DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sangat mendukung adanya kegiatan ini dan mengharapkan kegiatan seperti ini harusnya dilakukan di seluruh SMA, SMK, MA dan SMP/MTs agar mampu menurunkan tingkat pernikahan anak di Bangka Belitung.

“Melalui kegiatan ini, anak-anak diharapkan nantinya jadi generasi berencana, yaitu generasi muda yang merencanakan masa depannya menjadi lebih baik,” paparnya.

Untuk dapat menciptakan generasi yang berencana, maka di setiap satuan pendidikan harus ada kegiatan ekstrakulikuler Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) yang tujuannya memberikan informasi dan edukasi kepada siswa agar tidak menikah di usia anak.

Siswa yang hadir pada pertemuan ini diharapkan ada yang menjadi Konselor Sebaya dan Pendidik sebaya yang nantinya akan memberikan informasi dan edukasi tentang menjadi generasi berencana, yaitu generasi muda yang merencanakan masa depannya.

“Terima kasih kepada kepala SMK Negeri 1 Bakam yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Diharapkan kegiatan seperti ini tetap dilaksanakan di masa yang akan datang,” pungkasnya.(*)