Bimbingan Teknis Pedoman Pelatihan Perencanaan Dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) Untuk Pencegahan Stunting Di Provinsi Kalimantan Tengah

145

Palangkaraya (kla.id) “Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Republik Indonesia bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Kalimantan Tengah melaksanakan  Bimbingan Teknis Pedoman Pelatihan Perencanaan Dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) Untuk Pencegahan Stunting. Stunting  menjadi isu gobal karena menyangkut investasi Sumber Daya Manusia (SDM) suata Negara. Berdasarkan definisi menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), stunting adalah tinggi badan yang tidak sesuai dengan umur anak akibat kekurangan gizi dalam waktu lama yang diawali sejak masa janin hingga 2 tahun pertama kehidupan. Akibat tingginya prevalensi kurang gizi pada masa awal kehidupan tersebut berimbas pada kekurangan gizi kronis di usia sekolah serta resiko penyakit tidak menular (diabetes, obesitas, stroke, jantung) saat dewasa. Menurut data World Health Organization (WHO) 2012, terdapat 162 juta anak usia di bawah 5 tahun (balita) secara global mengalami stunting. Jumlah anak stunting di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara dan tidak hanya dialami keluarga yang miskin dan kurang mampu, meskipun semakin memburuk pada kelompok keluarga miskin.  Secara detail data riskesdas tahun 2013 menunjukkan prevalensi 37,2% balita stunting, tahun 2016 33,6% sedangkan tahun 2018 sebsar 30,8% mengalami stunting. Sebaliknya prevalensi anak baduta stunting naik dari 26,1% pada tahun 2016 menjadi 29,9% pada 3018. Balita pendek menggambarkan adanya masalah gizi kronis, dipengaruhi dari kondisi ibu/ calon ibu masa janin, masa bayi/ balita penyakit yang diderita saat balita termasuk penyebab multidimensi dan multisektor lainnya. Kementerian Kesehatan mengangkat 4 faktor utama penyebab stunting anatara lain kurangnya akses perempuan/ibu pada makanan bergizi, terbatasnya akses layanan kesehatan dan pembelajaran dini kualitas, pratek pengasuhan yang tidak baik serta kurangnya akses pada air bersih dan sanitasi dalam sambutan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Kalimantan Tengah dihadapan peserta Bimbingan Teknis Pedoman Pelatihan Perencanaan Dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) Untuk Pencegahan Stunting. Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 (tiga) hari  tanggal 27 s/d 29 Agustus 2019,  di Hotel Aquarius Boutique Palangka Raya.

 

Tujuan umum kegiatan ini adalah tersedianya Pedoman Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG) untuk program pencegahan stunting yang telah diuji cobakan untuk penyempurnaan buku pedoman.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Fahrizal Fitri, S.Hut., M.P. Dalam sambutan Sekretaris Daerah Fahrizal Fitri, S.Hut., M.P menyampaikan slogan “ ELA HINDAI STUNTING “. Narasumber dan fasilitator kegiatan ini terdiri dari :

  1. Kementerian Kesehatan.
  2. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
  3. Bappeda Provinsi Kalimantan Tengah.
  4. Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Kalimantan Tengah.
  5. Pakar dan Fasilitator Gender.

Materi yang disampaikan adalah :

  1. Isu Gender Dalam Pengendalian Stunting.
  2. Kebijakan dan Trend Kejadian Stunting di Provinsi.
  3. Gender Dalam Realitas Sosial Budaya di Indonesia.
  4. Keadilan dan Kesetaraan Gender.
  5. Analisis Gender untuk Pembangunan Kemanusiaan.
  6. Teknik Analisis Gender.
  7. Isu Gender Dalam Stunting
  8. Analisis Gender Dalam Penanggulangan Masalah Stunting di Indonesia.
  9. Alur Pengembangan Program untuk Penanggulangan Stunting.
  10. Gap sebagai Alat Analisis dalam Perencanaan program untuk Pencegahan Stunting.
  11. Perencanaan Program Responsive Gender untuk Pencegahan Stunting dalam Matrik GAP.
  12. Anggaran yang Responsif Gender dan Penyusunan GBS Dan KAK.

Kegiatan ini berjumlah 23 (dua puluh tiga) orang yang terdiri dari Bappeda, Perencena OPD/ Kantor Vertikal yang terkait, Pusat Studi Wanita/ Kajian Gender dari Unversitas Umum dan Pusat Studi Gender dan (PSGA) Perguruan Tinggi Keagamaan.

Dengan adanya kegiatan ini semua peserta memahami konsep gender dan pengarusutamaan gender (PUG) dalam isu stunting dan terlatihnya para perencana program dan kegiatan dalam penyusunan analisis gender melalui metode gender analysis gender (GAP), gender Budget Statement (GBS), Term Of Reference (TOR) dan Kerangka Acuan Kegiatan (KAK) (Revika, A.Md).