Di Tengah Pandemi, Anak Down Syndrome Dapat Fasilitas Belajar dari Ketua PKK SulSel

99
Fasilitas belajar bagi anak down syndrome.
Bunda PAUD SulSel (gaun hitam di tengah) menerima kunjungan KOADS Makassar (27/07/20).

Makassar (kla
Id) Menyikapi dunia pendidikan yang mengalami perubahan selama pandemi COVID-19, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Sulawesi Selatan (SulSel) yang juga adalah Bunda PAUD SulSel, Hj Liestiaty F Nurdin menjamin proses belajar tetap berjalan efektif. Terutama bagi anak down syndrome yang cenderung butuh perhatian lebih dibanding anak normal.

Hal itu dikemukakan saat menerima kunjungan Komunitas Orang Tua Anak Down Syndrome (KOADS) Makassar di Rumah Jabatan Gubernur SulSel pada Senin (27/07/20). Rombongan dipimpin Rahmatullah selaku Ketua KOADS SulSel.

“Kita siapkan fasilitas belajar bagi anak-anak kita, anak down syndrome. Mereka bisa belajar sesuai potensinya masing-masing, misalnya menulis, komputer, pertanian atau seni”, ungkap Lies.

Langkah strategis itu menurutnya dalam rangka menjamin keberlangsungan perkembangan pendidikan bagi anak down syndrome. Di mana pandemi COVID-19 telah membatasi ruang geraknya seperti anak lainnya dengan mengharuskan lebih banyak berada di rumah.

Untuk fasilitas belajar itu, dia menyebutkan ada gedung sekretariat yang siap ditempati. Untuk membantu orang tua dan anak, pihaknya mengikutkan pula dengan Tenaga Pendamping.

“Tentu protokol kesehatan tetap kita utamakan untuk diterapkan. Kalau begini, orang tua juga bisa datang mendampingi anaknya”, terangnya.

Dengan begitu, orang tua akan mendapat pemahaman dari Tenaga Pendamping, bagaimana mendidik serta mengarahkan anak lebih optimal. Bukan malah membiarkan jalan dengan sendirinya, bahkan relatif tanpa bimbingan.

Guna mengimplementasikan program tersebut, PKK SulSel menggandeng DP3ADaldukKB (Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana) Provinsi SulSel. Sejalan dengan upaya institusi itu melindungi anak dari segala bentuk kekerasan maupun ketidak pedulian.

Upaya itu mendapat tanggapan positif dari Rahmatullah. Dikatakan bahwa down syndrome merupakan kondisi kelainan kromosom yang dialami anak, umumnya hanya mampu fokus satu bidang kegiatan saja.

“Perlu diapresiasi karena anak down syndrome memang butuh perhatian khusus. Untuk membangun dan mengembangkan skillnya, kelak menjadi modal untuk hidup mandiri”, tutur dia.

Lebih khusus bagi anak yang orang tuanya dari kalangan prasejahtera. Dengan program itu, Rahmatullah meyakini dapat meringankan beban orang tua, sementara anak dengan down syndrome bisa belajar efektif meski pandemi masih bergulir. (AMBAE)