Isu Perempuan dan Anak perlu mendapatkan Perhatian Khusus

552

Makassar (kla.id)

Seiring dengan Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi IT, Isu Perempuan dan Anak sangat perlu mendapatkan perhatian khusus oleh semua pihak termasuk Pegiat Media Sosial.
Baru-baru ini Kementrian PPPA RI melaksanakan pelatihan tentang Isu Perempuan dan Anak bagi SDM media sosial yang dilaksanakan pada hari kamis-jumat,13-14 September 2018, di hotel Santika Makassar.

Kegiatan ini dibuka Plt. Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Sulawesi Selatan, Drs Askari MSi.yang didampingi oleh Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan, Febriani, SKM, M.Kes.

Pelatihan ini diselenggarkan Kementerian Pemeberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaaan Perempuan dan Perlindungan Anak Prov.Sulsel.yang diikuti utusan dari berbagi komunitas blogger, kompasianer dan Sanggar Seni Kabupaten Jeneponto.Selain itu pelatihan tentang Isu Perempuan dan anak ini Juga diikuti oleh perwakilan Dinas Sosial Kota Makassar dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Prov. Sulsel serta Fasilitator forum anak sulawesi selatan.
Narasumber pada acara tersebit adalah Ketua Lembaga Masyarakat Peduli Media, Budi Hermanto. Menurutnya bahwa tugas media terkhusus media sosial harus mampu mengedukasi banyak orang melalui media yang dipunyai, baik lewat tulisan maupun melalui caption kita.
Media sosial merupakan media online di mana penggunannya dapat dengan mudah berkomunikasi dan berpartisipasi tanpa dibatasi ruang dan waktu.
Saat ini banyak media sosial yang bisa di gunakan. Dari yang berbasiskan proyek kolaborasi, blog hingga micro blog
Ia menambahkan, saat ini isu perempuan dan anak kerap mencuat karena tingkat kekerasan terhadap perempuan semakin tinggi dan banyaknya kasus anak seperti yang firal saat ini adalah perkawinan usia anak.
Perempuan harus dihormati karena perempuan dan laki laki sama. Hanya perbedaan jenis kelamin saja.
“Karena itu, diperlukan pendekatan yang responsif gender bagi SDM media sosial sebagai upaya untuk meningkatkan keikutansertaan dalam mewujudkan informasi yang responsif gender dan melindungi anak. Dalam hal ini membutuhkan pemahaman dan komitmen,”
Dari kita semua ujarnya (*)