Kemen PPPA mengdakan Media Talk dengan Tema “Ancaman Terselubung Kejahatan Seksual Anak di Dunia Maya”

47

Palangkaraya (kla.id) Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Cq. Deputi Perlindungan Anak mengadakan Media Talk dengan Tema “Ancaman Terselubung Kejahatan Seksual Anak di Dunia Maya”, yang dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 17 Juli 2020 melalui Zoom Meeting. Peserta Media Talk dari Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan KB tingkat provinsi dan kabupaten/ kota.

Kegiatan “Ancaman Terselubung Kejahatan Seksual Anak di Dunia Maya”   menghadirkan narasumber dari Project Manager ECPAT Indonesia (Andy Ardian) “Ancaman Terselubung Kejahatan Seksual di Ranah Daring  bagi Anak”, CEO Project Karma (Glen Hulley) “Mendidik Anak-anak dan Orangtua Tentang Keamanan Online”, Founder Yayasan Sejiwa (Diena Haryana) “Cegah Dan Atasi Isu Pornografi di Seputar Anak”, Yayasan Peduli Sahabat (dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK,FINSDV,FAADV) “Penyakit Akibat Perilaku Seks Bebas/ Risiko Tinggi Pada Anak”  Bentuk pelaksanaan kegiatan ini adalah sosialiasi yang akan disampaikan melalui paparan oleh narasumber yang dilanjutkan tanya jawab menggunakan kanal online zoom meeting di pandu oleh moderator Ciput Eka Purwianti Asdep Perlindungan Anak Dalam Situasi Darurat dan Pornografi.

ECPAT Indonesia Andy Ardian menyampaikan paparan pada acara Media Talk, Jum’at 17 Juli 2020

Berdasarkan temuan awal dari ECPAT Indonesia Andy Ardian, 1203 responden terdapat 287 pengalaman buruk yang dialami pengalaman berinternet di masa pandemi yaitu: 112 dikirim tulisan/pesan teks yang tidak sopan dan senonoh, 66 dikirim gambar/ video yang membuat tidak nyaman, 27 dikirimi gambar/ video yang menampilkan pornografi. Segala bentuk tindakan/ perlakuan terhadap anak yang bertujuan untuk melakukan eksploitasi seksual dan dilakukan dengan menggunakan  atau memanfaatkan internet, contohnya materi yang menampilkan kekerasan seksual/eksploitasi seksual terhadap anak, Pengertian bujuk rayu (Grooming) untuk tujuan seksual online, Sexting (chat/obrolan untuk pemuasan seksual kepada anak), Pemerasan Seksual (Sextortion) dan siaran langsung kekerasan seksual pada anak. Dilihat dari dua sisi wajah internet positif dan negatif. Internet positif membantu manusia dalam menjalin hubungan dan kerjasama diantaranya menyebaran pengetahuan, politik, geografi, biologi dan ilmu pengetahuan lainnya, sedangkan di sisi negatif internet dijadikan alat untuk melakukan tidakan kejahatan contohnya penipuan, ekspoitasi seksual anak, transaksi narkoba, menyebarkan konten pornogafi anak dan lain-lain penyalahgunaan oleh pelaku kejahatan.

Yayasan Project karma, Glen Hulley mengatakan Online Grooming adalah proses di mana orang dewasa mulai  memenangkan kepercayaan anak. Sayangnya kejahatan ini terjadi di antara dua orang sehingga saksi sangat jarang, inilah yang perlu dipertimbangkan saat ini di mana anak-anak memilih lebih banyak waktu online di rumah sementara orang tua sibuk bekerja. Glen Hulley memberikan tips untuk orang tua untuk menghindari anak-anak dalam menggunakan internet yaitu memiliki hubungan yang baik dengan anak-anak (hal yang penting adalah membicarakan aplikasi yang mana mereka sukai sekarang dan menggunakan bersama-sama teman mereka), ubah pengaturan privasi di ponsel atau media sosial seperti gps, membuat akun anak-anak terhubung ke akun orang tua, memberikan anak-anak pemahaman  bahwa mereka harus berhati-hati ketika memberikan informasi atau foto di internet, hubungi lembaga pemerintah terkait seperti polisi, KPA jika anda sebagai orang tua menemukan sesuatu yang tidak pantas.

Yayasan Sejiwa Diena Haryana menyampaikan paparan pada Media Talk Ancaman Terselebung Kejahatan Seksual Bagi Anak Di Dunia Maya, Jum’at 17 Juli 2020

Founder Yayasan Sejiwa, Diena Haryana mengatakan tren kasus eksploitasi seksual anak sepanjang tahun 2018, tercatat 150 kasus terkait eksploitasi seksual anak di indonesia, 28% di antaranya pornografi sumber data Ecpat Indonesia. Dampak adiksi pornografi pada remaja adalah kerusakan otak pada anak yang mengakibatkan fungsi moral, perencanaan dan pengambilan keputusan contoh sulit membedakan baik dan buruk, gangguan emosi (perasan kacau, emosi yang labil mudah marah), masa depan yang suram (kehilangan mimpi-mimpi atau cita-cita untuk masa depan yang cerah.

Yayasan Peduli Sahabat dr. dewi Inong Irana, Sp.KK,FINSDV.FAADV menyampaikan paparan Pada Media Talk, Jum’at 17 Juli 2020

Pengalaman di lapangan, selama ini penularan IMS terjadi pada penjaja seksual/prositusi, korban perdagangan manusia, penjara remaja pria, coba-coba setalah nonton pornografi, suka sama suka, korban pelecehan seksual semua sudah terpapar/ menonton pornografi dari media (kecanduan, ikut-ikutan, hobi atau terpaksa) akibatnya orang tua tidak tahu/ abai karena kurang adannya komunikasi yang baik dalam menciptakan momen kebersamaan ungkap salah satu relawan yayasan peduli sahabat dr. Dewi Enong Irana, Sp.KK,PINSDV,FAADV.

Kegiatan Media Talk dengan Tema “Ancaman Terselubung Kejahatan Seksual Anak di Dunia Maya” di bebankan pada anggaran Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun anggaran 2020.