KKN UNHAS Ajar Pelajar Bantaeng Metode Merawat Cagar Budaya

554
Sosialisasi Tinggalan Cagar Budaya di Kabupaten Bantaeng melibatkan pelajar tingkat SMK/MA.
KKN UNHAS Gelombang 100 sosialisasikan cara melestarikan cagar budaya di Bantaeng (16/01/2019).

Bantaeng (kla.id)
Rabu (16/01). Tak kurang dari 50 orang pelajar sekolah lanjutan atas di wilayah Kelurahan Bonto Manai, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng mengikuti Sosialisasi Tinggalan Cagar Budaya di Kabupaten Bantaeng di Aula SMK Darul Ulum Panaikang, Rabu pagi, 16 Januari 2019.

Kegiatan yang dilaksanakan Mahasiswa KKN UNHAS (Universitas Hasanuddin) Makassar Gelombang 100 itu melibatkan 3 sekolah yakni SMK Darul Ulum Panaikang, MA Ma’arif Panaikang dan MA Muhammadiyah Panaikang. Dikatakan Andi Baso Syam Jaya Renaldy selaku Koordinator Desa, pentingnya memberikan pemahaman sekaligus mengajak siswa/siswi untuk menjaga kelestarian cagar budaya.

Menjaga cagar budaya kata dia, dibutuhkan pendalaman metode-metode agar sedapat mungkin maksimal. Bukan dengan dalih ingin menjaga tetapi justru merusaknya jika tidak terencana dan mengetahui cara merawat dan memeliharanya karena cagar budaya umumnya sudah berumur ratusan bahkan ribuan tahun.

“Kami memberikan pengetahuan kepada adik-adik bagaimana cara merawat dan memelihara tinggalan-tinggalan sejarah di Bantaeng khususnya cagar budaya berupa benda”, jelasnya.

Lanjut ditambahkan bahwa anak muda seperti pelajar diharapkan nantinya lebih aktif merawat tinggalan sejarah dibanding orang tua. Untuk itu sedini mungkin kaum muda milenial dibekali pengetahuan dan tak kalah pentingnya menanamkan jiwa memiliki terhadap cagar budaya sebagai identitas yang menggambarkan Bantaeng di masa lalu.

Diketahui Kabupaten Bantaeng telah dikenal lama sejak zaman pra sejarah. Hal itu dibuktikan adanya situs budaya Batu Ejayya yang mana ditemukan artefak-artefak yang digunakan manusia di era tersebut.

Andi Nila Kalsum sebagai narasumber yang juga Kasi Cagar Budaya dan Permuseuman, Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng menerangkan bahwa Bantaeng dikenal dengan julukan Butta Toa (Tanah Tua). Asal muasal bukti sejarahnya disebutkan dalam “Lontarak Makassar” bahwa Raja ke-4 Bantaeng menikah dengan Tumanurung Kerajaan Gowa.

“Bantaeng adalah kerajaan Makassar awal. Hanya saja yang lebih berkembang itu Kerajaan Gowa”, ujarnya.

Pada kesempatan sama juga hadir Lurah Bonto Manai, Andi Nurhayati dan Kepala SMK Darul Ulum Panaikang, H Muhammad Yusuf Takbir. Di akhir sosialisasi bertajuk “Mewujudkan Kepedulian Terhadap Tinggalan Cagar Budaya Sebagai Identitas Bantaeng Dalam Peradaban Sulawesi” dilakukan penyerahan sertifikat bagi peserta. (AMBAE)