Menyoal Perempuan dan Anak, DPPPA SulSel Sharing Bersama Muballigh Bantaeng

416
Sharing bersama Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat Bantaeng, Kabid PHPA DPPPA SulSel bahas permasalahan perempuan dan anak.
Kabid PHPA DPPPA SulSel (tengah) paparkan materi terkait perempuan dan anak (23/05/18).

Bantaeng (kla.id)

Kamis (24/05/2018). Permasalahan perempuan dan anak belakangan ini kian kompleks terjadi dimana-mana. Baik itu perkawinan usia anak atau lazim dikenal pernikahan dini maupun eksploitasi anak dan perempuan hingga kekerasan yang dilakukan oknum tak bertanggung jawab. Hal ini muncul seiring kemajuan teknologi. Seakan merasuki tiap lini kehidupan khususnya kehidupan berumah tangga.

Dengan maraknya permasalahan tersebut, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Provinsi Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMDPPPA) Kabupaten Bantaeng sharing bersama para Tokoh Agama (Muballigh dan Penyuluh Agama) dan Tokoh Masyarakat di Bantaeng, Rabu (23/05/2018). Selain itu juga melibatkan Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantaeng, P2TP2A Butta Toa Kabupaten Bantaeng, PATBM Butta Toa Kabupaten Bantaeng, PUSPAGA Butta Toa Kabupaten Bantaeng dan Forum Anak Butta Toa (FABT) Kabupaten Bantaeng.

Sharing dimaksudkan untuk memberikan pemahaman sekaligus menyatukan persepsi bagi Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat. Betapa pentingnya menyampaikan hal positif terkait persoalan yang menimpa perempuan dan anak melalui pendekatan agama dan sosial kemasyarakatan.

“Sharing ini kita adakan guna menyatukan pemahaman bahwa mendidik anak sangat penting. Orang tua, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama yang pertama harus hadir didalamnya agar tidak terulang kejadian sama seperti pernikahan usia anak di bawah umur.” ungkap Kabid PPPA Bantaeng, Syamsuniar Malik.

Sharing yang digelar di Masjid An-Nur Islamic Sport Center Pantai Seruni Bantaeng itu menghadirkan Kabid Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak (PHPA) DPPPA SulSel, Nur Anti. Mengangkat materi “Bijak menggunakan teknologi dalam melakukan asah, asih dan asuh pada anak.” Nur Anti memaparkan pentingnya keseimbangan mendidik anak melalui asah, asuh dan asih.

“Pengasuhan adalah upaya untuk memenuhi kasih sayang dengan 3 hal dasar yakni kelekatan, keselamatan dan kesejahteraan. Disini peran orang tua sangatlah penting, bukan saja Ibunya tapi harus seimbang antara Ibu dan Bapak.” tuturnya.

Menurutnya teknologi turut mempengaruhi kehidupan anak. Sehingga dibutuhkan pengawasan orang tua mengontrol anak memanfaatkan teknologi seperti penggunaan ponsel dan internet. Meski disadari bahwa teknologi punya manfaat jauh lebih besar jika digunakan dengan bijak.

Dalam Islam sendiri disebutkan beragam nilai pengasuhan. Mujahadah atau ulet dan rajin, amanah atau bertanggung jawab, ta’awun (bahu-membahu), tanashur (kerja sama), tawadhu (rendah hati), thuma’ninah atau muthmainnah (damai) dan sakinah (tenang dalam keluarga). Nilai-nilai ini dapat terwujud perlahan melalui pembiasaan. Sementara satu nilai yang otomatis muncul sejak lahir yakni mahabbah atau Mawaddah yang berarti cinta kasih sayang.

Nur Anti mempertegas jika nilai-nilai ini dibutuhkan dalam membentuk pribadi berkarakter Islami. “Saya berharap para Tokoh Agama dan juga Tokoh Masyarakat dapat mensosialisasikan kesemua nilai Islami seperti halnya bagaimana menjauhi zina, menghindari pergaulan bebas dan pernikahan dini.” pintanya. (AMBAE)