Nikahkan Puteranya, Plt. Bupati Bantaeng Tidak Lupakan Adat Bugis-Makassar

580
Prosesi awal pernikahan Aswan dihadiri Soraya Jasmin Haque.
Aswan (kanan) dan Soraya (kiri) saat prosesi Siraman (22/04/18).

Bantaeng (kla. Id)

Selasa (24/04/2018). Tidak kurang di antara Warga Negara Indonesia (WNI) telah melupakan budaya Nusantara dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih saat merayakan pesta sakral lagi amat penting dalam keluarga. Fenomena ini telah mewabah dengan hadirnya modernisasi serta pengaruh globalisasi yang berlebihan. Sedini mungkin perlu dicegah kepunahannya. Anak-anak patut mengetahui adat budaya sebagai bahan pembelajaran serta media efektif merencanakan arah masa depannya.

Semoga saja fenomena ini tidak terus berlanjut dan mempengaruhi anak lainnya. Betapa tidak, negeri ini punya beragam khasanah adat dan budaya yang semestinya dilestarikan dengan mengimplementasikannya pada tiap ruang kehidupan pribadi seorang WNI. Adat Budaya yang justru diminati, disukai dan amat dihargai Warga Negara Asing (WNA) khususnya mereka yang sedang berwisata dan dapat menyaksikan langsung.

Upaya pelestarian dapat dilakukan salah satunya melibatkan seluruh komponen masyarakat mulai dari pimpinan tertinggi negeri ini hingga level terbawah. Seperti halnya prosesi pernikahan anak Presiden Republik Indonesia, Jokowi yang masih mempertahankan Adat Budaya Jawa.

Demikian halnya putera bungsu dari Plt. Bupati Bantaeng, H. Muhammad Yasin yakni Ahmad Aswan Alamsyah Yasin. Dalam waktu dekat bakal ucapkan ijab kabul bersama pasangannya. Mengawali prosesi pernikahan dan perkawinan, dirinya mengikuti serangkaian prosesi khas adat Bugis-Makassar, Minggu (22/04/2018) diantaranya Mappassili atau dikenal Siraman dalam Adat Jawa. Kedua Adat Budaya suku Bugis dan Makassar saling bertautan dalam prosesi ini mengingat ayahanda begitu kental berdarah Bugis. Sementara ibunda, Hj. Aisyah Yasin yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantaeng saat ini dari keluarga besar suku Makassar.

Sebelum disiram atau dimandi, calon mempelai laki-laki ini A’kaddo’ lamming dilanjutkan Appala’ Kana. Dimana Aswan memohon do’a restu kedua orang tua dengan menghaturkan sembah bakti di hadapannya. Air siraman bersumber dari 7 tempat yang ada di Kabupaten Bantaeng. Disatukan dalam wadah yang dimaknakan sebagai do’a. Penuh harap agar calon pengantin menjadi mata air di musim kemarau. Tersirat makna lebih dalam mudah-mudahan pasangan ini senantiasa bersama menjalani hidup berkeluarga, baik dalam suasana makmur maupun serba terbatas.

Yasin dan Aisyah selaku kedua orang tua menyiramkan air ke badan Aswan, diikuti keluarga lainnya. Tampak pula saat Siraman berlangsung, Soraya Jasmin Haque, artist ibukota yang sengaja hadir mengikuti seluruh rangkaian acara. Dirinya turut menyuapi Aswan di pelaminan yang ditempatkan di ruang utama Kediaman Plt. Bupati Bantaeng. Dan berakhir dengan menyiramkan air ke sekujur tubuh Aswan. Namun hal menarik dari umumnya. Jika orang lain hanya menyiram saja, Soraya pertontonkan gerakan berbeda. Ditempelkan sepucuk kembang pada daun telinga Aswan yang diambilnya dari wadah air siraman.

Soraya menyebutnya hal langka, pasalnya baru kali ini mengikuti rangkaian lengkap prosesi awal pernikahan. Momen ini pula jadi kali pertama bagi dirinya menyiramkan air ke badan calon pengantin. “Ikut seremonial siraman baru kali ini, dulu justru saya yang disiram saat nikah. Senang pastinya, apalagi Kakak Ipar Saya juga orang Bugis. Kalau lihat prosesi perkawinan di Indonesia, ada kemiripan hanya beda istilah. Pakemnya sama, misalnya laki-laki saat ke rumah perempuan tidak boleh makan makanan yang ada disana. Terus ada siraman, tapi pada hakekatnya sama.” jelasnya. (AMBAE)