PARENTING PAUD “PASIR PUTIH” HU’U~DOMPU (13 WASIAT BERHARGA UNTUK PARA GURU)

138

“Paud Pasir Putih dalam Mewujudkan Anak Usia Dini yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cerdas, jujur, bertanggung jawab, kreatif, percaya diri dan cinta tanah air menuju terbentuknya insan Indonesia cerdas komprehensif”

Dompu~NTB Kla.id, Anak adalah anugerah terindah dan amanah yang dititipkan Allah SWT kepada setiap orang tua yang harus dirawat, diasuh, dididik, dilindungi serta diperhatikan kebutuhan gizi dan kesehatannya, sehingga anak dapat bertumbuh dan berkembang sesuai tahapan usianya.

Adalah Eglantyne Jebb (1876-1928) Tokoh yang pertama memikirkan dan merumuskan hak~hak anak yang kemudian diadopsi oleh Persatuan Bangsa~Bangsa menjadi Konvensi Hak~Hak Anak pada 1959. Hal ini dilatarbelakangi oleh keinginannya untuk melindungi dan memperjuangkan masa depan anak. Tujuannya agar setiap anak dapat hidup, tumbuh dan berkembang optimal.

Namun, soal Hak~Hak Anak belum banyak diketahui masyarakat, karena kurangnya sosialisasi, sehingga seringkali terjadi pelanggaran hak~hak anak. Apa saja hak-hak anak? Ada 10 hak anak, yaitu (1) Hak atas persamaan; (2) Hak untuk memiliki nama; (3) Hak untuk memiliki kewarganegaraan; (4) Hak atas perlindungan; (5) Hak atas makanan; (6) Hak atas pendidikan; (7) Hak atas kesehatan; (8) Hak atas rekreasi; (9) Hak bermain; (10) Hak atas peran dan keterlibatan dalam pembangunan.

Sementara keluarga, menurut Ki Hajar Dewantara, merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga adalah tempat lahirnya benih generasi sejak dalam kandungan hingga perjalanan usia anak memasuki sekolah, sehingga sekolah turut andil menjadi tempat pertumbuhan dan perkembangan generasi tersebut.

Peran keluarga tidak dapat tergantikan oleh siapa pun, meski  anak tersebut bersekolah di sekolah ternama dengan fasilitas yang luar biasa. Keluarga yang terdiri minimal dari ayah dan ibu harus memiliki kemampuan dalam melaksanakan semua hak anak. Keluarga harus mampu menerapkan pola pengasuhan, sehingga anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk bertumbuh dan berkembang.
Setiap anak yang terlahir harus diberi nama dan tercatat dalam Dokumen Resmi Negara seperti Kartu Keluarga, Akta Kelahiran dan Kartu Identitas Anak, sehingga kewarganegaraan anak dapat diakui secara resmi.
Setiap anak harus dilindungi dari kekerasan fisik dan psikis yang tentunya hal ini dimulai dari keluarga itu sendiri. Keluarga harus dapat memenuhi kebutuhan yang menjadi hak anak, seperti makanan bergizi, sehat dan seimbang, memantau kesehatan anak secara rutin dan memberikan pendidikan yang layak.

Dunia anak adalah dunia bermain, sehingga anak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain dan sesekali anak harus diajak berekreasi untuk memberikan berbagai pengalaman psikologis dan spiritual kepadanya. Namun, kenyataan yang dijumpai dalam masyarakat masih banyak keluarga yang belum memahami pentingnya peran rekreasi bagi anak, sehingga hak~hak tersebut terabaikan.
Oleh karena itu, Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini haruslah dilengkapi dengan Program yang Berbasis Keluarga (Parenting). Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam peningkatan gizi dan kesehatan, perawatan, pengasuhan, pendidikan dan perlindungan sesuai tahapan usia anak, sehingga adanya keselarasan antara program di sekolah dan di rumah.

Keselarasan Pendidikan yang dilaksanakan di PAUD dan di rumah merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan anak secara utuh, menyeluruh dan terintegrasi. Oleh karena itu, Program PAUD Berbasis Keluarga adalah salah satu upaya keselarasan dan keberlanjutan pendidikan yang dilakukan di rumah.
Contoh Program Parenting di Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini, Pertama, kegiatan pertemuan orang tua, guru dan pengelola sekolah. Kegiatan ini merupakan wadah komunikasi bagi Orang Tua dan Pengelola PAUD maupun Guru. Bentuk kegiatan bisa berupa arisan, forum diskusi di media sosial seperti di grup whatsapp dan facebook atau pertemuan rutin setiap Bulan dengan beragam tujuan.

Kedua, Lembaga PAUD sesekali melibatkan orang tua dalam kelas, seperti kelas mewarnai gambar, meronce, membuat kolase dan lain~lain. Sekolah juga dapat melaksanakan perlombaan yang melibatkan Ibu dan Anak untuk memperingati Hari~Hari Besar.

Ketiga, keterlibatan orang tua dalam acara bersama. Kegiatannya seperti menghadiri Seminar Pendidikan atau kepengasuhan, rekreasi bersama, mengikuti beragam perlombaan di luar sekolah dan lain~lain.
Kegiatan bermain dan belajar yang merupakan proses kegiatan pembelajaran bagi anak tidak harus selalu di dalam kelas. Sesekali kegiatan itu bisa diadakan di luar kelas, bahkan di luar sekolah. Orang Tua harus dilibatkan, sehingga orang tua dapat mengetahui bagaimana perkembangan anak dan dapat mengarahkan perkembangan tersebut secara optimal.

Keempat, Pengelola PAUD sebaiknya juga menjadwalkan hari~hari tertentu di mana Orang Tua, Pengelola dan Pendidik dapat bertatap muka dan bermusyawarah untuk membahas pertumbuhan dan perkembangan anak, masalah~masalah yang dihadapi dan solusi untuk mengatasi setiap permasalahan. Jika perlu Pengelola PAUD dapat menghadirkan Seorang Ahli di Bidang Pendidikan, Kesehatan dan Kejiwaan Anak. Hal ini dapat dilaksanakan melalui kemitraan dengan pihak terkait seperti Puskesmas, Dinas Pendidikan setempat, Dinas Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak dan Instansi lainnya.

Kelima, sesekali Pengelola PAUD dan Guru mengunjungi Rumah Peserta Didik untuk menjalin silaturahmi dan memupuk ikatan kekerabatan. Anak Usia Dini berada di usia terpenting dalam hidupnya. Mereka sering disebut dalam masa emas (golden age), karena mereka mampu menyerap begitu banyak informasi yang menjadi bekal hidupnya kelak untuk menjalani kehidupan di masa depan. Sehingga pemberian stimulasi dan nutrisi yang lengkap dapat membantu otak anak untuk memproses segala hal dengan baik dan optimal. Selalu mengajak berkomunikasi dengan anak dapat mendorong optimalisasi tumbuh kembang anak.

Kehadiran keluarga dalam mendampingi proses pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi suatu hal yang sangat berharga dan tak tergantikan dengan hal apapun. Karena itu kondisi kehidupan keluarga, misal keharmonisan, kedamaian, kenyamanan dan kesejahteraan, sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Serangkaian pelaksanaan Program Prenting di PAUD “PASIR PUTIH” Desa Jala Kecamatan Hu’u Kabupaten Dompu~NTB, Pengelola EMY SULANI, S.Pd menyampaikan pesan yang sangat berharga bagi Pendidik dan Orang Tua di lembaga tersebut.

“13 Wasiat Berharga Untuk Para Guru/Pendidik”

(1) Hendaknya tidak mengambil cuti sakit ketika engkau tidak sakit sehingga tidak menggabungkan dua maksiat : kebohongan dan makan harta haram. Sesungguhnya pemotongan gaji dilandasi taqwa dan takut kepada Allah itu lebih baik dan lebih kekal.
(2) Terimalah murid-muridmu dengan segala kesalahan mereka karena mereka bukan malaikat, bukan pula syaitan. Tidak ada alasan untuk lari dari meluruskan kesalahan-kesalahan itu karena Anda adalah murabbi (pendidik) dan ini yang diharapkan dari Anda.
(3) Tunjukkan rasa hormat Anda kepada murid yang ada di hadapan Anda dengan cara menerangkan keutamaan mereka sebagai penuntut ilmu. Hal ini akan mendekatkan jarak Anda dalam menuju hati mereka.
(4) Ingatlah bahwa banyak di antara orang-orang besar menjadi besar lantaran satu kata dari seorang guru yang melejitkan mereka dan memantik cita mereka hingga menggapai puncak.
(5) Perbagus cara interaksi Anda dengan para murid. Berapa banyak guru yang mendapat doa dari murid setelah bertahun-tahun terlewati, atau setelah berada di liang kubur.
(6) Semua mata pelajaran dapat dikaitkan dengan ajaran-ajaran Islam. Tinggal bagaimana Anda mencari media yang tepat.
(7) Setiap menit keterlambatan Anda dalam memulai pelajaran atau keluar sebelum waktu selesai adalah hak murid, ia akan mengambilnya pada hari penghitungan amal.
(8) Berapa banyak guru yang menjadi sebab lurusnya arah berpikir kaum muda sehingga ia mendapatkan doa-doa tulus dan kebaikan yang mengalir. Ya Allah, tambahkan dan berkahi setiap guru yang kuat, bertanggung jawab, dan senantiasa berbuat baik.
(9) Di depan Anda ada generasi. Bangkitkan jiwa mereka, ajarkan cinta kepada ilmu, dan bangunkan semangat. Barangkali satu kata dari Anda dapat membakar spirit dalam hatinya dan menjadi kebaikan untuk ummat.
(10) Rasa takut murid Anda terhadap Anda bukanlah pertanda keberhasilan dan keterampilan Anda dalam menegakkan kedisiplinan. Itu hanya pertanda bahwa Anda gagal dalam memerankan pendidikan. Pendidikan itu membawa ketegasan dan kasih sayang bukan dengan menakut-nakuti.
(11) Syekh Utsaimin rahimahulloh membedakan antara pulpen inventaris kantor dan pulpen pribadi karena takut makan barang haram. Lantas bagaimana dengan orang yang menghalalkan sesuatu yang lebih berharga daripada tinta? Yaitu waktu!
(12) Ingatlah bahwa anda mempunyai anak yang diajar oleh guru-guru seperti Anda. Maka berbuat baiklah kepada anak orang niscaya Allah akan menyiapkan bagi anak Anda guru-guru yang akan berbuat baik kepada mereka. “Balasan sesuai dengan amal perbuatan.”
(13) Ikhlaskan niat utk Allah. Karena sesungguhnya Anda sedang melakukan tugas para Nabi. Dan jika anda mengharap pahala dalam pekerjaan Anda, maka setiap jam pada siang hari Anda dalam timbangan kebaikan Anda.
Semoga jadi nasehat para pejuang Pendidikan…

Apakah kondisi ekonomi keluarga berbanding lurus dengan keharmonisan dan kedamaian di dalam keluarga? Tentu tidak. Banyak keluarga yang berkecukupan toh tak mampu membangun kehidupan keluarga yang harmonis dan damai. Sebaliknya banyak keluarga yang tergolong miskin tetapi mereka bisa hidup harmonis, damai dan mampu mendidik anak menjadi orang yang berhasil secara akademis dan ekonomis. [Yd/DP3A Dpu]