PAUD “KASIH IBU” – DOMPU : 14 PERMINTAAN ANAK

163

 

“Membentuk Peserta Didik yang Cerdas, Baik & Terampil, Berakhlak Mulia, Sholeh/Sholihah sehingga Terwujud Peserta Didik yang Kreatif & Mandiri”

Dompu~NTB Kla.id, Usia Dini merupakan masa emas perkembangan. Pada masa ini terjadi lompatan luar biasa dalam perkembangan yang tidak terjadi pada periode berikutnya. Para ahli menyebutnya sebagai usia emas perkembangan (golden age). Untuk mengembangkan potensi perkembangan tersebut, setiap anak membutuhkan gizi, perlindungan kesehatan, pengasuhan dan rangsangan pendidikan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Pemberian rangsangan pendidikan dapat dilakukan sejak anak dilahirkan yang dimulai dari lingkungan keluarga. Rangsangan pendidikan ini hendaknya dilakukan secara bertahap, berulang, konsisten, dan tuntas, sehingga memiliki daya ubah (manfaat) bagi anak. Seiring bertambahnya usia, anak~anak membutuhkan rangsangan pendidikan yang lebih lengkap sehingga memerlukan tambahan layanan pendidikan di luar rumah yang dilakukan oleh Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Antara rangsangan pendidikan yang dilakukan di di rumah (home base) dan yang dilakukan di luar rumah (center base) harus saling  mendukung dan melengkapi, sehingga diperoleh hasil yang optimal.

Rangsangan pendidikan di luar rumah sudah dapat dimulai setelah anak berusia 6 bulan bahkan sejak usia 3 bulan. Sayangnya layanan anak seusia dini keberadaannya terbatas. Walaupun ada, belum tentu terjangkau oleh masyarakat. Oleh karena itu diperlukan bentuk PAUD Alternatif yang lebih terjangkau dalam bentuk Satuan PAUD Sejenis (SPS).
Atas dasar itulah, maka kami membentuk Kelompok Belajar Satuan PAUD “KASIH IBU”.
Satuan PAUD KASIH IBU merupakan salah satu Lembaga Pendidikan Luar Sekolah yang berupaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini melalui Program PAUD.

Tugas dari orang tua mendidik anak-anak yang lahir dimulai sejak dini, mulai umur 0 sampai 5 tahun yang dimaksud yaitu program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Setiap bayi yang lahir di dunia ini adalah emas, selanjutnya bagaimana caranya mempertahankan bayi itu sampai dewasa tetap emas, perak maupun perunggu tergantung orang tuanya.


Hal terserbut disampaikan Kabid Paud & Dikmas Dikpora Kab. Dompu, MADE SUPRAPTA, M.Pd (YUSUF WIJAYA) didampingi Ketua Himpaudi Kecamatan Dompu SURYANTI saat meninjau Aktivitas Proses Pembelajaran Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020 di PAUD “KASIH IBU” Jalan Lintas la~Key No. 25 Parapimpi Raba Laju RT/RW 015/008 Kelurahan Potu~Dompu (01/08~2019).

Selanjutnya Pak YUSUF WIJAYA mengatakan pada revolusi industri 4.0 permasalahan yang dihadapi tidak lagi bicara siapa yang besar atau kuat dan yang kecil kalah, akan tetapi siapa yang cepat dialah yang menang. Untuk menguasai teknologi informasi 4.0 diperlukan sumber daya manusia yang hebat.

Kabid Paud & Dikmas juga mengatakan bahwa prediksi Pricewaterhouse Coopers (PwC), Lembaga Konsultasi Ekonomi Internasional bahwa Tahun 2045 Indonesia akan masuk Negara Keempat terbesar Ekonominya di Dunia. “Hal ini bagaimana dengan sumber daya manusia, sedangkan sumber daya alam sangat melimpah ruah, semuanya ada di Indonesia, tinggal bagaimana mengelolanya,” ujarnya.

“Oleh sebab itu mari kita sama~sama mendukung program pemerintah yang saat ini masuk pada era pembangunan sumber daya manusia. Pertama kita membangun infrastruktur dan sejalan dengan itu kita membangun sumber daya manusia yang unggul, maka revolusi industri 4.0 pasti akan kita raih,” ungkap YUSUF WIJAYA.

Pada kesempatan tersebut juga Kabid Paud & Dikmas menyampaikan, bayangkan apabila Indonesia mampu menguasai Teknologi 4.0 dan 5.0 yang akan datang, maka Indonesia akan menjadi negara yang sangat besar dan mendapatkan bonus demografi dengan penduduk yang semua pintar.

Serangkaian kegiatan Hari Anak Nasional (HAN) Pengelola Lembaga PAUD “Kasih Ibu” HAERUNNISYA, S.Pd menyampaikan beberapa hal dari berbagi Permintaan Anak Yang Tidak Pernah Diucapkan,
“Ia mungkin tak bisa mengungkapkan dengan terus terang. Ia pun tak bisa dengan mudahnya jujur terus terang tentang keluh kesah yang selama ini ia rasa. Ia mungkin laksana malaikat kecil yang dirindukan, namun sekaligus menjadi malaikat kecil tak berdaya di tengah ego yang terkadang muncul dari peranan orang di sekitarnya. Mungkin ia lelah dengan semua ini, hingga terkadang menampakkan sisi keegoisan, kenakalan, ketidaksukaan, ketakutan, hingga kekurang ajaran dalam bersikap”

Ada 14 permintaan anak yang mungkin tidak pernah mereka ucapkan ;
1) Cintailah aku sepenuh hatimu. Mungkin tak banyak anak yang dengan leluasa dan gampangnya mengungkapkan rasa cinta pada diri anda. Namun taukah anda, bahwa anak ingin sekali mendapatkan cinta dan kasih sayang yang tulus dari anda. Banyak dari anak yang tak mendapatkan kasih sayang secara tulus, yang pada akhirnya membuat anak justru mencari perhatian dengan cara yang salah. Atau bisa jadi sang anak mencari kasih sayang lain di luar orang tuanya, yang mana jika lingkungan yang menerima kasih sayangnya salah, justru akan membuat anak mendapatkan permasalahan baru.
2) Jangan marahi aku di depan orang banyak. Tak ada satu orang pun yang menginginkan untuk di permalukan di depan orang banyak. Bahkan orang dewasa sekalipun yang telah memiliki nalar dan fungsi konstruk berpikir yang telah lengkap sempurna berkembang pun, dapat tersinggung hingga menampakkan reaksi perlawanan pada anda, apalagi anak kecil. Ketahuilah bahwa, seorang anak membutuhkan sebuah bimbingan yang baik, bukan aksi marah anda yang anda umbar saat ia di depan umum. Terlebih lagi pada saat mereka sedang asik bermain bersama teman-teman. Memarahi di depan teman-temannya hanya akan membuat mereka merasa malu, dan berpotensi di bully teman-temannya di kemudian hari. Tentu anda telah mengetahui dampak bullying terhadap pertumbuhan seorang anak bukan?
3) Jangan bandingkan aku dengan kakak atau adikku atau orang lain. Membadingkan hanya akan menimbulkan permasalahan dikemudian hari, bukan menjadikan anak nurut mengikuti harapan anda. Dengan membandingkan dengan orang lain, justru membuat anak semakin menjauh daripada harapan yang anda inginkan.
4) Ayah Bunda jangan lupa, aku adalah fotocopy-mu. Memperlakukan anak membutuhkan kesabaran, dan waktu yang lebih agar ia dapat menyelearaskan dengan keinginan dan harapan anda. Terkadang mungkin anak membuat anda gusar karena perilakunya yang membentak saat bereaksi atas ketidaknyamanannya. Fatalnya terkadang tak sedikit orang tua yang menyikapi bentakan dari anak, dengan cara membentak balik, bahkan di bumbui kekerasan. Sekirnya hal ini, mari kembali merenungi penyebab anak melakukan hal yang demikian, bukan berfokus pada apa yang terjadi dan dilakukan sang anak. Ingat bahwa anak adalah representasi dari apa yang telah anda lakukan dan ajarkan pada mereka.
5) Kian hari umurku kian bertambah, maka jangan selalu anggap aku anak kecil. Selalu saja dari hari ke hari, ia di anggap anak kecil. Hardikan dan bentakan saat ia mencoba untuk melakukan sesuatu yang menurut anda ia belum mampu, selalu di terimanya. Sesekali waktu saat ia mencoba untuk menjelaskan apa yang di rasakannya pun, tak jarang engkau bentak dengan “jangan banyak bicara, kamu ini masih kecil!!” Betapa hatinya srentak langsung membatu, terluka, dan bahkan berpotensi menyimpan dendam. Yah, dendam yang dialamatkan pada diri anda yang membentak, orang tua kandung yang seharusnya memberikan limpahan kasih sayang.
6) Biarkan aku mencoba, lalu beritahu aku bila salah. Mungkin ia belum mampu melakukan segalanya, namun tak sepatutnya dengan ketidak mampuan mereka, menjadikan anda berhak untuk mengekang segala bentuk aktivitas dan kreativitas mereka dengan alasan legalitas bahwa anda orang tua mereka. Ketahuilah bahwa, sebagai orang tua ada baiknya melakukan pengarahan, pendidikan, dan fungsi nasehat yang baik dan lembut, bukan dengan pengekangan, pelarangan, dan menghardik jika mereka melakukan kesalahan akibat tidak mendengarkan anda.
7) Jangan ungkit-ungkit kesalahanku. Tidak ada seorang pun yang ingin di ungkit kesalahannya. Mengungkit kesalahannya, hanya akan menimbulkan kembali luka lama, yang sebenarnya hendak mereda. Dengan mengungkit kesalahan, menjadikannya mencontoh anda dalam melakukan hal yang serupa pada orang lain kelak.
8) Aku adalah Ladang Pahala bagimu. Taukah anda Ayah/bunda bahwa saat anda sabar dalam menghadapi ku, maka saat itu jugalah pahala hadir di hadapanmu. Oleh sebab itu maka, perlakukanlah aku dengan rasa kasih sayang, bukan dengan hardikan kasar nan mencela, terlebih di hadapan orang-orang.
9) Jangan memarahiku dengan mengatakan hal-hal buruk, bukankah apa yang keluar dari mulutmu sebagai orang tua adalah doa bagiku? Ucapan semakna dengan harapan dan doa. Ketika ucapan itu terus menerus di ucapkan dan didengan, maka ucapan tersebut menjadi sebuah informasi yang bersifat menetap dalam pikiran. Jika pikiran telah terbentuk maka, perkataan tadi menjadi sebuah spirit untuk mewujudkan ke dalam realita. Oleh sebab itu segala bentuk perkataan dan ucapan baik ataupun buruk, jika di ucapkan berulangkali akan memiliki dampak dalam diri seseorang.
10) Jangan melarangku hanya dengan mengatakan “JANGAN” tapi berilah penjelasan kenapa aku tidak boleh melakukan sesuatu. Setiap ayah/bunda melarang anak untuk bermain, beraktivitas, maupun berkreativitas sesuai kehendaknya, maka cobalah untuk memberiku rasionalisasi mengapa aku tidak boleh melakukannya. Karena jika larangan tak disertai dengan rasionalisasi, hanya akan memperlihatkan sisi penghukuman atas kreaativitas yang telah di lakukan oleh anak. Akibatnya anak akan menjadi tidak kreatif karena dalam bayangannya ia merupakan anak yang salah jika berkreativitas.
11) Tolong ayah ibu, jangan rusak mentalku dan pemikiranku dengan selalu kau bentak-bentak aku setiap hari.
12) Jangan ikutkan aku dalam masalahmu yang tidak ada kaitannya denganku. Kau marah sama yang lain, aku imbasnya.
13) Aku ingin kau sayangi cintai karena engkaulah yang ada di kehidupanku dan masa depanku. Penghargaan yang baik pada anak, akan membuat anak tumbuh kembang menjadi pribadi yang percaya diri. Hinaan dan membandingkan ketidak berdayaan anak dengan kemampuan dari orang lain, hanya akan menjadikan anak menjadi pribadi yang cenderung minder, ataupun jika ia menjadi lebih baik, bisa jadi hal itu bukan karena tulus dari dalam hatinya, namun hal tersebut tak sedikit dikarenakan adanya faktor perlawanan pada diri anda sebagai orang tuanya. Jika telah muncul bibit-bibit perlawanan dalam diri anda, yakinkah anda ia akan mencurahkan segala keluh kesah pada diri anda? Entahlah hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
14) Berilah aku pendidikan agama, agar lepas tanggung jawabmu kelak, dan sebagai anak shaleh kita akan saling tarik menarik ke Surga


[Yd/DP3A Dpu]