Pernikahan pada usia anak beresiko, DPMPPA Kota Jambi menggelar Sosialisasi Pencegahan Perkawinan pada Usia Anak

94

Pernikahan dini sangat berbahaya, khususnya terhadap anak perempuan di bawah umur. Untuk mengatasi hal tersebut Dinas  Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Jambi melakukan Sosialisasi Pencegahan Pernikahan pada Usia Anak , Senin (21/6).

Kegiatan Sosialisasi Pencegahan Pernikahan Dini yang dilaksanakan oleh  DPMPPA Kota Jambi Kota Jambi menghadirkan dua orang narasumber yang berasal dari Kementerian Agama Kota jambi dan Dinas Kesehatan Kota Jambi. Kedua narasumber tersebut menyampaikan materi yang berkaitan dengan bahaya pernikahan pada usia anak dan hal-hal yang dapat berdampak pada masa depan anak. Adapun peserta sosialisasi siswa siswi dari FAD Kota Jambi dan siswa-siswi dari berbagai SMA di Kota Jambi.

Diterangkan kepala dinas PMPA Kota Jambi “perkawinan anak harus dicegah karena secara psikologis, anak-anak yang menikah di usia dini tidak siap, sehingga akhirnya masa depan suram, membuat hidup mereka amburadul”.

Data BPS Nasional menunjukkan angka perempuan menikah sebelum usia 18 tahun tertinggi di Indonesia yaitu 21,2 persen. Untuk itu sesuai 5 (lima) arahan Presiden RI yang salah satunya adalah pencegahan perkawinan anak, hal ini adalah tanggung jawab kita bersama. Pilar penyelenggaraan perlindungan anak sesuai UU nomor 35 tahun 2014 negara pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak.

“Fokus penanganan melalui sosialisasi ini memberikan pemahaman kepada para siswa di sekolah-sekolah terkait tentang resiko pernikahan/perkawinan usia dini, dan pentingnya upaya-upaya untuk mencegah pernikahan usia dini terjadi, sehingga angka pernikahan usia dini di Kota Jambi dapat teratasi,” jelas Drg. Irawati Sukandar dalam pembukaan sosialisasi tersebut.

Lebih lanjut Irawati menjelaskan, melalui sosialisasi tersebut  para pelajar memiliki bekal ilmu tentang resiko yang dihadapi, dan bagaimana kiat-kiat yang bisa dilakukan agar tidak terjebak dalam pernikahan usia dini.

“Para siswa sangat penting untuk diberi pemahaman tentang Pendewasaan Usia Perkawinan. Ini dilakukan agar para siswa itu memiliki gambaran tentang resiko yang dihadapi dan bagaimana kiat-kiat yang bisa dilakukan agar tidak terjebak dalam pernikahan usia dini ini,” ungkap Irawati.

Suatu pernikahan idealnya apabila antara pasangan suami istri matang baik dari segi biologis maupun psikologis, bahkan dari aspek kesiapan sosial dan ekonomi.

“Kematangan biologis adalah apabila seseorang telah cukup usia maupun dari segi fisik dan materi. Sedangkan kematangan psikologis adalah bila seseorang telah dapat mengendalikan emosinya dan dapat berpikir secara baik, dapat menempatkan persoalan sesuai dengan keadaan,” ucapnya.

Pada sosialisasi ini narasumber dari Kemenag menitik beratkan pada upaya pencegahan perkawinan anak usia dini.  Menurutnya Undang-Undang pernikahan No. 16 Tahun 2019 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, yang sebelumnya usia menikah pada perempuan minimal 16 tahun dan laki-laki 19 tahun tetapi dalam UU baru mengharuskan 19 tahun baik perempuan maupun laki-laki.

“Kalau masih di bawah 19 tahun pada saat mengajukan di KUA dapat dipastikan akan ditolak,  jika masih ngotot akan diarahkan ke Pengadilan Agama untuk menjalani sidang,” jelasnya.

Menurutnya, sosialisasi pencegahan pernikahan dini tersebut bertujuan  untuk meningkatkan pemahaman kepada siswa-siswi mengenai faktor,  akibat,  manfaat,  apabila ditinjau dari aspek psikologis, dan aspek sosial yang akan sangat berpengaruh terhadap individu pelaku pernikahan pada usia dini tersebut.