PKK SulSel Lindungi Anak dan Berdayakan Perempuan Selama Pandemi COVID-19

29
Diskusi Publik Perempuan dan Anak.
Ketua PKK SulSel mengikuti Vidcon dari Rumah Jabatan Gubernur SulSel (10/06/20).

Makassar. Berupaya memaksimalkan peran sebagai mitra Pemerintah, Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan (TP PKK SulSel) terus meningkatkan kepedulian sosial. Dengan harapan bisa menjadi teladan di tengah masyarakat, terlebih karena organisasi kemasyarakatan itu targetnya adalah keluarga.

Sejak pandemi COVID-19 melanda SulSel, organisasi yang digawangi Hj Liestiaty F Nurdin banyak melaksanakan kegiatan sosial yang mengarah pada upaya membantu Pemerintah mengatasi dampak pandemi. Salah satunya dengan mengambil peran aktif terhadap penyaluran bantuan bagi masyarakat terdampak.

“Kami bentuk Tim Tanggap Cepat Kesiapan Pangan dan Prioritas Kesehatan Masyarakat Prasejahtera Menghadapi Pandemi COVID-19”, kata Lies di Rumah Jabatan Gubernur SulSel pada Rabu (10/06/20).

Disampaikan melalui Video Conference (Vicon), Lies menjelaskan sejumlah capaian dari tim yang populer mereka sebut Tim Tanggap Cepat COVID-19 (TTC COVID-19). Diantaranya penyaluran sembako di 15 Kecamatan yang ada di Kota Makassar.

Di samping itu, ada 3 daerah yang turut disasar karena tingkat penyebaran COVID-19 yang cenderung tinggi dibanding daerah lainnya. TTC COVID-19 bekerja mulai 3 April hingga 23 Mei 2020.

“Alhamdulillah kita bisa menjangkau 11.763 Keluarga. Terima kasih atas kerja-kerja tim yang luar biasa, di tim ini kami berdayakan para perempuan hebat”, ujarnya.

Pada Diskusi Publik bertajuk “Peran Perempuan dan Anak dalam Situasi COVID-19 di SulSel” itu, Dosen Fakultas Perikanan UNHAS (Universitas Hasanuddin) Makassar itu juga memaparkan upaya PKK SulSel dalam melindungi perempuan. Sekedar diketahui diskusi tersebut terselenggara berkat kerja sama dengan Koalisi Masyarakat Sipil (KMS) SulSel.

“Kita coba hidupkan perekonomian, memberdayakan perempuan membuat tas kain dan masker. Jadi UMKM kita geliatkan untuk berperan menangani pasien COVID-19, mereka yang siapkan makanan bergizi bagi pasien yang dikarantina di hotel”, jelasnya.

Mereka yang diberdayakan termasuk perempuan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ataupun yang dirumahkan. Termasuk diantaranya single parent serta remaja puteri dan mahasiswi yang tidak pulang ke kampung halaman karena adanya pembatasan.

“Kita bersyukur karena produksi tas kain sebanyak 7.200 lembar itu dipakai mengemas paket sembako. Para perempuan kita berdayakan, lingkungan juga tetap sehat karena tidak menggunakan plastik untuk kemasan sembako”, terang dia.

Sementara perlindungan terhadap anak, pihaknya gencar memberikan himbauan, sosialisasi serta edukasi terkait penerapan hidup bersih. Anak-anak senantiasa didampingi orang tuanya guna menyelesaikan tugas sekolah selama masa belajar di rumah.

“PKK SulSel membagikan masker dan antiseptik di Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) yang di dalamnya ada anak dan perempuan. Ada juga makanan untuk bayi, untuk Ibu Hamil dan Ibu Menyusui kita bagikan, kita berharap perempuan dan anak sama terlindunginya dari COVID-19 seperti kaum laki-laki dan orang dewasa ya”, tegasnya.

Dalam implementasinya di lapangan, PKK SulSel berkolaborasi dengan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) lingkup Pemerintah Provinsi (Pemprov) SulSel. Demikian halnya berbagai organisasi lain seperti organisasi wanita, organisasi masyarakat, organisasi pemuda serta organisasi keagamaan.

Pada kesempatan sama, Martira Maddeppungeng selaku Koordinator Pengabdian Masyarakat IDI (Ikatan Dokter Indonesia) SulSel menyampaikan 3 pilar utama yang perlu dijaga dalam pandemi COVID-19. Dirinya dimandat sebagai Narsumber kedua pada Diskusi Publik itu.

“Pastikan anak sehat dan terpenuhi gizinya. Yang kedua, pastikan pembelajaran dini tetap optimal sesuai perkembangan otaknya dan terakhir pastikan anak terlindungi dan terhindar dari track”, paparnya.

Sementara Narasumber ketiga, Dosen Fakultas Psikologi UNM (Universitas Negeri Makassar), Asniar Khumas menekankan pentingnya menjadi pahlawan bagi keluarga. Bagaimana melindungi anak dengan menjaga psikologisnya karena anak ikut didera keterebatasan baik ruang maupun waktu.

“Kita harus menjadi pahlawan keluarga menjaga psikologis anak. Inilah dampak pandemi yg bisa mengganggu psikologis anak jika tidak dikelola dengan baik”, ungkap Asniar yang juga Founder Rumah Belajar Cinta Damai Kota Parepare.

Diskusi Publik yang diikuti kurang lebih 100 orang itu dipandu oleh Ira Husain sebagai Host dari ICJ (Institute of Community Justice) Makassar. Berlangsung sekitar 2 jam dengan memanfaatkan aplikasi Zoom Cloud Meeting. (AMBAE)