Saya belum Menjadi Warga Kota yang Bijak

554

Kaget juga mendengar cerita Prof. Gunawan Cahyono, Guru Besar Arsitek UI, saat berbagi pengalaman pada acara bincang-bincang informal di Kampus UI Salemba, Sabtu, 26 Februari 2011. Beliau berbagi cerita mengenai pengalaman pertama berada di Kota Los Angeles, California, “Menghentikan bus, tetapi bus-nya tidak mau berhenti” dalam benak beliau kalau di Jakarta menghentikan bus di mana saja bisa. Kock ini tidak berhenti, dan beliau kurang paham apa yang diminta oleh Pengemudi Bus sambil menunjuk ke arah lain. Betapa malu-nya. Naik bus saja ada aturan, tegas beliau.

Masih cerita Prof. Gun, bahwa “Saat jalan-jalan di Mal di Tokyo, beliau naik eskalator yang tidak digunakan oleh pengunjung lain, pikiran beliau daripada tidak dipakai, beliau gunakan. Ternyata eskalator tersebut diperuntukkan bagi mereka yang ingin berjalan terburu-buru. Jadi dibuat malu lagi.

Cerita lain dari peserta yang pernah jalan-jalan di Singapura, Kuala Lumpur, dan beberapa kota lain yang lebih beradab.

Dari cerita ini ada benang merahnya, bahwa untuk menjadi seorang warga kota itu perlu belajar menjadi warga kota yang bijak, terdidik, disiplin, bertanggung jawab, dan ramah.

Menjadi warga kota yang bijak, sesungguhnya mudah, tetapi ini butuh proses yang sangat panjang. Bila belajar dari Singapura, Tokyo, Los Angeles, dan kota-kota dunia lain yang beradab, para pemimpinnya memiliki cara-cara yang berbeda, namun mempunyai satu tujuan adalah bagaimana menjadikan setiap individu menjadi warga kota yang bijak.

Menurut Kevin Lynch, arsitek MIT yang melakukan riset “Persepsi Anak Mengenai Lingkungan Kota” di empat kota dunia pada tahun 1971, bahwa “anak-anak mengharapkan kotanya mempunyai lingkungan fisik dan sosial yang kuat, kotanya mempunyai aturan dan dijalankan secara tegas, dan kotanya menjadi pusat pendidikan untuk mengetahui dunianya”. Hasil penelitian Lynch yang kemudian menjadi acuan Unicef dan UNHABITAT dalam memperkenalkan kosep Child Friendly City Initiative, suatu konsep yang bertujuan untuk menjadikan kota ramah terhadap anak. Artinya, anak sebagai warga kota suaranya mewarnai dalam proses pembuatan kebijakan, program, pelaksanaan, dan pemantauan. Di Indonesia konsep ini diadaptasi menjadi “Konsep Kota/Kabupaten Layak Anak” yang tertuang dalam Rencana PembangunanNasional Jangka Menengah 2010-2014 yang akan direncanakan terimplementasi di 100 kabupaten/kota pada tahun 2014.

Belajar dari Pendapat Anak

Kita tidak pernah menyangka bahwa “Pendapat Anak mengenai kota” yang diungkap oleh Lynch membawa perubahan di berbagai kota yang ada dibelahan dunia. Sebut saja Singapura. Lee Kwan Yew, semasa menjabat sebagai Perdana Menteri Singapura mengawali pembangunan Kota Singapura berfokus pada anak. Beliau beralasan bahwa “Memberi tahu sesuatu pada anak lebih mudah daripada orang dewasa”. Apalagi awal-awal kemerdekaan warga Singapura sangat jorok, buang sampah, meludah, dan pipis di sembarangan tempat. Perilaku ini semua berubah setelah Lee menanamkan nilai-nilai kebajikan pada anak-anak. Selain membuat kebijakan dan penegakan hukum yang tegas. Hasilnya “Warga Singapura” berubah menjadi “Warga yang Bijak”.

Tokyo, Seoul, dan kota-kota lain di dunia mengikuti apa yang disampaikan oleh anak-anak melalui Lynch.

Jakarta, Bagaimana?

Tergantung pada masing-masing pimpinan kota di lima wilayah Jakarta. Apa maunya pimpinan, pasti akan diikuti oleh warga, apalagi hal tersebut bertujuan untuk kemajuan sebagai warga kota.

Malu juga, mengaku warga kota tapi perbuatannya tidak mencerminkan sebagai warga kota – buang sampah di sembarang tempat; naik bus tidak pada tempatnya; merokok di sembarang tempat; menerobos antrean; parkir di sembarang tempat; menyogok polisi; dan lain sebagainya.

Kalau pemimpin kota menciptakan lingkungan yang kuat secara fisik, yakni jalan tidak ada lagi yang berlubang, trotoar bebas PKL, ada penerangan jalan, dan kuat secara sosial yaitu adanya wadah yang nyaman dan aman sebagai pusat pertemuan warga, terutama anak-anak. Selain itu pemimpin kota membuat peraturan daerah yang tegas dan yang terpenting dijalankan dan diawasi secara bijak. Tidak seperti sekarang “ada larangan merokok”, tetapi Satpol PP sendirinya merokok”. Bagaimana warga menjadi bijak.