Sosialisasi Tentang ASI Eksklusif, Gizi Seimbang, Pembatasan Gula Garam Lemak (GGL) Bagi Keluarga Sebagai Pelapor 2P Di Provinsi Kalimantan Tengah

216

Palangkaraya (kla.id) – Hak anak adalah bagian dari hak azasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan Negara. Pemenuhan hak anak harus sesuai dengan prinsip yang mencakup (1) non diskriminasi, (2) kepentingan terbaik bagi anak, (3) hak kelangsungan hidup, dan (4) perkembangan serta penghargaan terhadap pendapat anak. Mendapatkan derajat kesehatan tertinggi, merupakan salah satu hak anak yang harus dipenuhi agar anak mampu tumbuh dan bekembang dengan baik. Hal tersebut berguna bagi mempersiapkan generasi emas Indonesia pada tahun 2045. Untuk itu, upaya peningkatan kualitas anak Indonesia harus dilakukan sejak saat ini secara berkesinambungan dan integratif yang dimulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Mendapatkan gizi yang baik dan cukup merupakan salah satu hak kesehatan dasar anak yang harus dipenuhi untuk menunjang proses tumbuh kembang anak yang optimal. Sayangnya, masih dijumpai masalah pemenuhan gizi bagi anak seperti status gizi rendah, bayi kerdil (stunting), dan gizi berlebih (obesitas) pada anak. Masalah status gizi dan stunting pada anak , 90% dipengaruhi oleh asupan makanan yang diterima sejak dalam kandungan hingga anak tumbuh menjadi remaja. ASI merupakan salah satu gizi terbaik yang harus diberikan pada anak sejak lahir hingga usia 2 tahun karena mengandung zat gizi yang paling sesuai dengan kebutuhan bayi. Lebih lanjut lagi, ASI memberikan seperangkat zat perlindungan terhadap berbagai penyakit akut dan kronis termasuk mencegah stunting pada anak. Oleh karena itu, setiap bayi mempunyai hak mendapat ASI secara eksklusif selama 6 (enam) bulan pertama kehidupan dan dilanjutkan dengan pemberian makanan pendamping yang bergizi. Setelah anak mendapatkan ASI eksklusif selama 6 (enam) bulan, anak memerlukan asupan gizi pendamping yang baik hingga tumbuh menjadi remaja. Dalam pemberian asupan pada anak, perlu memperhatikan komposisi gizi seimbang agar anak tumbuh dengan optimal. Kondisi Obesitas pada anak sangat dipengaruhi oleh jumlah konsumsi gula, garam dan lemak (GGL). Konsumsi GGL yang berlebih pada anak akan mengakibatkan berbagai penyakit seperti stroke, diabetes mellitus, serta gangguan pada jantung, ginjal dan organ lainnya. Oleh Karena itu, pembatasan konsumsi GGL pada anak perlu diperhatikan dalam proses pemberian asupan makanan pada anak supaya anak tumbuh dengan baik yang disampaikan dalam sambutan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Kalimantan Tengah dihadapan para peserta Sosialisasi Tentang ASI Eksklusif, Gizi Seimbang, Pembatasan Gula Garam Lemak (GGL) Bagi Keluarga Sebagai Pelapor 2P Di Provinsi Kalimantan Tengah  di hotel aquarius tanggal (11/04)’.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya Pemberian ASI eksklusif, gizi seimbang, dan Pembatasan konsumsi GGL pada keluarga dan Meningkatkan peran keluarga dan anak sebagai 2P (Pelopor dan Pelapor) dalam pemenuhan hak anak atas ASI, gizi seimbang.

Kegiatan ini diawali dengan pembukaan, laporan panitia pelaksana oleh Kepala Seksi Tumbuh Kembang Anak Rusilawaty, dan membaca sambutan Kepala Dinas P3APPKB sekaligus membuka kegiatan Plt. Kepala Bidang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak  Tarmanta, SKM.,M.Si. Kegiatan ini dilanjutkan dengan paparan materi yang disampaikan ASI Eksklusif untuk memenuhi hak anak atas kesejahteraan oleh nasarumber pusat Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Kesehatan dan Kesejahteraan KPPPA RI Drs. Hendra Jamal’s M.Kes dan Pemenuhan Gizi Seimbang dan Pembatasan Gula Garam Lemak (GGL) guna Tumbuh Kembang Anak oleh Direktorat Gizi Masyarakat, Kemenkes/ Praktisi Gizi Masyarakat Dr. Hera Nurlita.

Kegiatan ini didukung oleh Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Kesehatan dan Kesejahteraan KPPPA RI, Direktorat Gizi Masyarakat, Kemenkes/ Praktisi Gizi Masyarakat, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan  Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Kalimantan Tengah dr. ADM. TANGKUDUNG, M.Si. Peserta berjumlah 100 (seratus) orang yang terdiri dari unsur Tim Penggerak PKK, Organisasi Perempuan, Organisasi Kemasyarakatan, Organisasi Profesi, Pusat Kajian bidang Anak dan Perempuan dan Organisasi Keagamaan, dan Dinas PPPA Provinsi Kalimantan Tengah. Kegiatan Sosialisasi Tentang ASI Eksklusif, Gizi Seimbang, Pembatasan Gula Garam Lemak (GGL) Bagi Keluarga Sebagai Pelapor 2P Di Provinsi Kalimantan Tengah dibebankan pada DIPA Satker Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak, Tahun Anggaran 2019 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Dengan adanya kegiatan ini diharapkan setiap anggota keluarga mampu menjadi pelopor dan pelapor (2p) dalam pemenuhan hak anak atas kesehatan dan kesejahteraaan di provinsi Kalimantan Tengah (Revika, A.Md)